Makna Leksikal dan Idiomatik Sujud[1]?

batu_yang_sujud.jpg

 Sujud dalam shalat merupakan salah satu persoalan lain yang menjadi pertentangan antara mazhab Syi’ah dan Ahlsunnah. Syi’ah mementingkan penggunaan unsure bumi dalam sujud mereka (baik itu tanah, pasir maupun batu) atau tumbuhan yang tidak bias dimakan dan dibuat pakaian[2]. Apabila mereka tidak mendapatkan tempat yang bersih dibumi, mereka membawa sejumlah tanah yang bias dibentuk atau lainnya yang bias dijadikan tempat untuk bersujud. Mereka yang sadar akan persoalan hukum mengetahui bahwa banyak argumentasi yang membuktikan cara bersujud ini, yang juga merupakan cara yang dilakukan oleh banyak sahabat dan para pengikut mereka. Hal ini juga yang lebih utama menurut konsep kahati-hatian dalam beragama. Arti sujudDalam as-Shahih, sebuah kamus arab-arab yang disusun oleh al-Jawahiri, bahwa “sujud dalam shalat berarti meletakkan dahi pada bumi”. Arti yang sama juga disebutkan dalam an-Nihayah, Lisan Arab dan Taj al-Arus. Sesungguhnya sujud adalah derajat puncak tingkat kerendahan hati yang diatasnya tidak ada lagi kerendahan hati, dan hal ini tidak diperbolehkan kecuali bagi Allah SWT[3].Dalam Quran yang suci dinyatakan, “dan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (Q.S az-Zukhruf 43-37).Selain itu, sujud juga merupakan keadaan terdekat seorang hamba terhadap tuhannya, “sekali-kali jangan! Janganlah kamu patuh kepadanya, dan sujudlah dan dekatkanlah dirimu (kepada tuhan)”. (Q.S al-Alaq 96-19).Sebuah hadis menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “keadaan terdekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah dalam sujud, maka memohonlah sebanyak-banyaknya dalam sujud”[4].Perlu diingat bahwa sujud adalah puncak derajat tingkat kerendahan hati dan secara hokum hanya diperuntuhkan bagi Yang Maha Kuasa, maka sekarang seharusnya kita bias melihat diatas apa yang kita bisabersujud untuk menunjukkan puncak derajat tingkat kerendahan hati yang terbesar. Seperti definisi yang diberikan oleh ahli bahasa, tingkat tertinggi kerendahan hati adalah sujud pada bumi, khususnya tanah, karena bumi tidak bias disamakan dengan permadani atau sesuatu yang dapat dimakan atau dijadikan pakaian yang tumbuh dari bumi. Jadi, sebagai tambahan dari dalil tersebut, yang akan disebutkan kemudian, sujud diutamakan dilakukan pada bumi atau tanah, kecuali tentunya jika ada bukti cukup yang menyatakan bahwa sujud bias dilakukan pada sesuatu yang bukan tumbuh dari bumi adalah sah.Hadis-hadis Mengenai sujudNabi Muhammad SAW bersabda, “Bumi diperuntuhkan sebagai tempat untuk sujudku (masjid) dan sebagai pembersih”[5]. Seperti kita lihat, dalam hadis yang diriwayatkan secara mutawatir ini, bumi secara khusus disebutkan sebagai tempat untuk bersujud. Ini membuktikan bahwa seharusnya memang ada suatu alasan untuk kekhususan ini. Setidaknya hadis ini menunjukan bahwa sujud tidak diperbolehkan dilakukan diatas apa saja, dan sebab itu, maka hanya diizinkan pada sesuatu yang diperbolehkan dalam agama dan bukan diatas sesuatu yang belum jelas. Mungkin saja ditegaskan bahwa hadis ini berarti bahwa ibadah dalam islam tidaklah terbatas pada tempat khusus, seperti sinagog kaum Yahudi atau gereja kaum Kristen, dan sangatlah mungkin untuk dilakukan dimana saja di bumi. Maka hadis ini tidak berhubungan dengan sujud. Sebagai tanggapan, arti ini tidaklah bertentangan dengan persoalan sujud, dan bahwa sujud tidak diperbolehkan disembarang tempat. Dengan kata lain, arti sebelumnya termasuk dalam arti yang terakhir dan merupakan suatu syarat atasnya, karena jika semua tempat dibumi diperbolehkan untuk sujud (maksud sujud dalam shalat, dikarenakan konsep “bersih” setelahnya), ibadah dapat dilakukan disemua tempat di bumi. Maka para ulama ahlisunnah, seperti Ibn Hajar[6], Muhammad Asyraf Azim Abadi[7], Qasthalani[8], dan Amir al-San’ani[9] semuanya menerima hal ini dan memilih arti bersujud sebagai tempat untuk masjid (tempat bersujud) dalam hadis berikut.Jabir bin Abdullah Anshari[10] mengatakan, saya hendak melaksanakan shalat zuhur. Hari itu sangat panas sehingga saya mengambil segenggam pasir untuk menyejukannya dan menggunakannya untuk sujud[11].Baihaqi telah meriwayatkan hadis ini dalam as-Sunnah al-Kubra dengan sedikit perbedaan redaksi. Dia juga meriwayatkan hadis yang sama dari Anas bin Malik dengan cara lain dan memberi komentar, “Jika sujud yang dilakukan pada kain yang dipakai seseorang adalah suatu hal yang diperbolehkan, tentunya akan lebih mudah dibandingkan mendinginkan pasir panas dalam genggaman seseorang dan meletakkannya untuk sujud”[12].Karena Baihaqi menganggap hadis ini sebagai bukti ketidak bolehan sujud pada suatu kain yang melekat dibadan. Walaupun pernyataan Baihaqi adalah benar, namun perlu ditambahkan, jika sujud yang dilakukan pada kain-baik itu yang sedang dipakai dibadan ataupun tidak-adalah diperbolehkan, maka tidaklah perlu mendinginkan pasir karena melakukan sujud pada kain yang sedang dipakai dibadan sangatlah mudah, maka begitu pula pada kain yang sedang tidak dipakai dibadan, secarik kain atau bahkan sebuah koin di kantung seseorang. Jadi hadis itu juga dapat berfungsi sebagai suatu bukti atas tidak diperbolehkannya melakukan sujud pada kain, baik yang sedang dipakai ataupun tidak[13]. Alasannya adalah bahwa Jabir bin Abdullah Anshari meriwayatkan hadis ini dengan menggunakan kata kerja lampau (past continuous verb) dengan menambahkan كانت   pada kata kerja sekarang (present), yang menunjukan bahwa hal tersebut terjadi tidak hanya sekali.Meskipun demikian, hadis ini menunjukan bahwa sujud tidak diperbolehkan pada sembarang tempat. Apabila tidak demikian (sujud diperbolehkan diatas sembarang tempat), maka usaha yang konstan untuk sujud diatas pasir merupakan suatu hal yang tidak bijaksana.Kami mengeluh kepada Nabi Muhammad SAW mengenai panasnya pasir terhadap wajah kami dan tangan saat shalat, tapi beliau mengabaikannya[14].Setelah meriwayatkan hadis yang sama, Ibnu Hajar alAsqalani berkata, “hadis ini shahih dan diriwayatkan oleh muslim”[15]. Ditekankan dalam Tuhfat al-Muhtaj bahwa sanad milik Baihaqi adalah shahih[16]. Juga dikatakan dalam Subul as-Salam bahwa hadis ini adalah shahih[17]. Hal yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud[18]. Hadis ini jelas membuktikan bahwa sujud tidak diperbolehkan disembarang tempat. Jika tidak demikian, maka mengeluhkan panasnya pasir menjadi suatu hal yang tidak ada gunanya karena mereka bias melakukan sujud selain diatas pasir yang panas[19].“Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai shalat. Nabi SAW kemudia menjawab, “…dan ketika kamu bersujud, tempatkanlah dahi kamu diatas bumi, dengan cara dimana kamu dapat merasakannya”[20].Nabi  SAW biasa menyentuhkan dahi dan hidungnya diatas bumi[21] dalam sujud.[22]Mengenai hadis ini, Turmuzi berkata, “hadis Abu Humaid adalah benar dan hasan”“Saya melihat Nabi SAW, ketika beliau sendiri bersujud, dahi serta hidungnya diletakkan diatas bumi”.[23] Hadis yang sama juga diriwayatkan dengan sedikit berbeda, “Saya melihat Nabi SAW melakukan sujud pada bumi, meletakkan dahi dan hidung beliau diatasnya”.[24]Nabi SAW bersabda, “Shalat kalian tidaklah sah kecuali jika kalian melakukan wudhu kalian …dan meletakan wajah (dahi) kalian diatas bumi”.[25]Dalam kenyataannya, penggunaan kata ارض pada hadis-hadis ini adalah merupakan suatu kesengajaan. Hal ini tersebut dimaksudkan untuk membedakan bumi dengan hal lainnya, terutama sejak keduanya telah disebutkan dalam beberapa hadis, seperti yang kit abaca dalam Shahih Bukhari dan kitab-kitabnya lainnya. “Kami[26] melaksanakan shalat bersama Nabi Muhammad SAW dalam cuaca yang panas, dan ketika tidak ada seorang pun diantara kami yang dapat menempatkan wajahnya pada bumi, ia melakukan sujud pada kainnya”.[27] Jika melakukan sujud pada kain atau permadani sama saja seperti melakukan sujud diatas tanah, maka tidak perlu mempertentangkan bumi dengan selainnya dalam hadis-hadis ini. Itulah mengapa walaupun tanah sedang basah, sujud tetap dilakukan diatasnya. Diriwayatkan, sebagai contoh, bahwa terkadang dahi Nabi Muhammad SAW terlihat basah oleh lumpur. “Saya melihat Nabi SAW melakukan sujud diatas bumi, yang sedang basah oleh air dan Lumpur, sedemikian rupa sehingga aku melihat Lumpur pada dahi beliau yang suci”.[28] Lumpur terlihat pada dahi dan hidung Rasulullah disebabkan oleh shalat yang beliau lakukan dengan kaum muslim lainnya.[29] Aisyah[30] juga mengatakan, “Saya tidak pernah melihat Nabi SAW melatakan sesuatu diantara beliau dan bumi”[31].Hadis yang menegaskan bahwa pada suatu hari yang sedang hujan, Nabi SAW terlihat meletakan permadani kertas perkamen (terbuat dari kulit) pada bumi untuk melakukan shalat, hanyalah dilakukan pada situasi tertentu sehingga tidak bertentangan dengan hadis-hadis sebelumnya. Bagaimana mungkin bila sujud diperbolehkan pada sembarang tempat, namun bumi tetap disebutkan secara khusus dalam berbagai hadis ?Terdapat berbagai macam hadis yang menetapkan bahwa hidung harus ditempatkan pada bumi dalam bersujud, juga dinyatakan kondisi yang sama untuk dahi. Hal ini khususnya dalam hadis-hadis yang menyebutkan bahwa hidung harus ditempatkan pada sesuatu yang sama sperti juga halnya dahi ketika sedang sujud. Satu contoh seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Nabi SAW : “Shalat seseorang, yang tidak meletakan hidung pada tempat yang sama dengan dahinya, tidak akan diterima”.[32] Juga, hadis-hadis yang menyebutkan bahwa dalam sujud, sorban harus disingkirkan dari dahi, menunjukkan bahwa penting untuk meletakan dahi diatas bumi : “Nabi SAW melihat seseorang laki-laki yang sedang melakukan sujud pada lapisan sorban, lalu beliau menunjuk laki-laki tersebut untuk melepaskan sorbannya dan menunjuk kedahinya”.[33] Baihaqi juga berkata dalam kitab Sunnah, “Riwayat yang menandakan bahwa Nabi SAW melakukan sujud pada suatu lapisan sorban adalah sama sekali tidak sah”.[34] Para ulama selain Baihaqi juga menetapkan konsep ini. Pendapat Beberapa Sahabat dan UlamaBerkenaan dengan hadis-hadis yang telah disebutkan, sebagian sahabat, para tabi’in dan lainya dizaman setelahnya, bersujud dengan menempatkan dahi mereka tepat diatas bumi atau sedikitnya mereka lebih menyukai cara sujudseperti ini.Abdul Karim Abu Umayyah berkata, “saya telah diberitahu bahwa khalifah Abu Bakar Siddiq bersujud diatas tanah atau shalat dengan cara menyentuhkan badannya pada bumi”.Abu Ubaidah meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud tidak melaksanakan sujud atau shalat selain diatas tanah.Ashim meriwayatkan, “kapan pun Ibnu sirin melaksanakan shalat saat dahi dan hidungnya tidak dapat menyentuh bumi, maka ia akan berpindah tempat untuk shalatnya”.Diriwayatkan bahwa kapan pun Masyruq meninggalkan rumah, ia membawa sebuah bata untuk melaksanakannya sujud di atasnya.[35] Juga diriwayatkan dalam kitab Fath al-Bari bahwa kapan pun Masyruq menaiki sebuah kapal, ia membawah sebuah batu bata untuk sujud diatasnya ketika melaksanakan shalat. Hadis yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Sirin.[36]Razin, dahulu seorang budak dari Abbasyiah, berkata, “Ali putra Abdullah Bin Abbas, meminta kepadaku sebuah bata untuk melakukan sujud”.[37]Umar bin Abdul Aziz diriwayatkan telah mengambil tanah dari bumi dan meletakannya pada alas untuk melakukan sujud diatasnya.[38]Ibnu Abi Syaybah meriwayatkan bahwa Urwah bin al-Zubair segan untuk melakukan sujud disembarang tempat kecuali pada bumi.[39] Hal yang sama juga diriwayatkan dari orang-orang selain Urwah.Dicatat dalam al-Mudawwana al-Kubra bahwa malik mengetahui bahwa merupakan suatu hal yang tidak disukai untuk melakukan sujud pada sebuah karpet, kain, alas, atau kulit. Ia biasa mengatakan, “diperbolehkan untuk berdiri, berlutut atau duduk pada bahan-bahan ini, tetapi untuk sujud dan meletakan telapak tangan di atasnya adalah dilarang. Namun ia memperbolehkan melakukan sujud dan meletakan telapak tangan diatas pasir dan selainnya yang berasal dari bumi.[40]Kesimpulannya, seperti telah ditetapkan oleh sebagian ulama Ahlusunnah, sujud harus dilakukan pada bumi dan bukan hal lainnya, kecuali Khumra,[41] tikar jerami dan sesuatu yang tidak bias dimakan dan dipakai yang tumbuh dari bumi. Hadis-hadis yang memperbolehkan sujud pada tikar dan selain bumi seharusnya hanya diterapkan dalam keadaan terpaksa, atau diabaikan seluruhnya karena bertentangan dengan hadis-hadis lain. Singkatnya, seseorang yang meletakkan dahinya diatas bumi telah mengikuti tindakan Nabi SAW yang bersabda, “Tempatkan wajah kalian pada bumi”.[42]Sebaliknya, seseorang yang menahan diri dari hal ini sesungguhnya telah mengikuti kedunguan Abu Jahal yang mengatakan, sebagaimana dikutip muslim dalam Shahih dan Ahmad dalam Musnad dan riwayat Abu Hurairah,[43] “apakah Muhammad SAW menempatkan wajahnya pada bumi dihadapan kalian?”, mereka menjawab, Ya, Abu Jahal berkata, “Saya bersumpah demi Latta dan Uzza (dua berhala” bahwa bila aku melihatnya melakukan itu, akan kubenamkan wajahnya ke bumi”. Ia pernah mendatangi Rasulullah SAW ketika Nabi sedang shalat dan bermaksud hendak menginjak leher beliau yang suci. Setiap Abu Jahal mencoba untuk menyakiti Nabi SAW, ia akan kembali menutupi dirinya dengan tangannya. Ketika ditanya tentang hal itu, ia akan menjawab, “terdapat parit api dan ketakutan antara Muhammad dan aku, serta banyak bulu dan sayap-sayap,” Nabi SAW bersabda, “jika mendekati saya, para malaikat akan mencabiknya hingga terpotong-potong”.Sebagai penutup tulisan ini, sangatlah bermanfaat untuk menyebutkan sebuah hadis dari imam Shadiq as yang menetapkan ketentuannya yang sesuai untuk bersujud sebagai berikut : Husham bertanya kepada imam Shadiq as, “Beritahu saya apa-apa yang diperbolehkan dalam sujud dan apa-apa yang tidak diperbolehkan dalam sujud”. Imam Shadiq as menyatakan, “Sujud tidak diperbolehkan kecuali pada bumi atau selainnya yang berasal darinya, kecuali sesuatu yang dapat dimakan atau pakaian yang bahannya berasal dari bumi”. Husham bertanya, “Izinkan aku jadi tebusanmu! Apakah alasannya ?”, imam Shadiq menjawab, “karena sujud hanyalah untuk Allah Yang Maha Mulia, jadi tidaklah sah menurut hukum untuk dilakukan pada tempat yang bias dimakan atau yang bias dipakai karena mereka yang mencintai dunia ini menjadi hamba kepada apa yang dimakan dan dikenakannya sedangkan sujud merupakan pemujaan dan pengagungan terhadap Allah. Untuk itu, sujud tidaklah sah menurut hokum pada tempat yang menipu para pemuja kehidupan dunia”.[44] جعلت الارض مسجدا وطهورا      



[1] Diterjemahkan dari kitab syiah dar sunnah, karya Muhammad Reza Mudarresee.

[2] Beberapa ahli fikih menegaskan bahwa sujud dapat dilakukan diatas kertas, bahkan bila kertas tersebut tidak terbuat dari kayu misalnya kertas yang terbuat dari sutra.

[3] Mengenai sujud para malaikat dihadapan Adam as dan sujud para putra Ayub as dihadapan Nabi Yusuf as telah banyak disebukan dalam kitab-kitab tafsir. Satu pendapat mengatakan bahwa Nabi Adam dan Nabi Yusuf as adalah kiblat dan bukan yang disembah.

[4] Shahih Muslim, kitab Asshalat no. 744, Sunan an-Nasa’i, kitab at-Tatbiq no. 1125, Sunan Abi Dawud, kitab Ashalat no. 741, Musnad Ahmad, Baqi Musnad al-Muskatsirin no. 9083, as-Sunan al-Kubro, bagian II, kitab ashalat jama’, abwab sifat ashalat bab al-Ijtihad fi ad-Du’a fi as-Sujud Dar fakir edisi 1 hal. 448 no. 2744.

[5] Sunan Ibn Majah, kitab ath-Thaharah wa sunataha no. 560, juga Shahih Bukhari, kitab at-Tayamum, no. 323 dan kitab ashalat no. 419, Shahih Muslim kitab al masajid no. 811, Musnad Ahmad, Baqi Musnad al-Mukatsirin no 11358, 11483, 11362; Sunan ad-Darimi, kitab as-Shalat no. 1353 dan kitab as-Syir no. 2358, Sunan an-Nasa’i kitab al-Ghusl wa at-Tayamum no. 429 dan kitab al-Masajid no. 728, Sunan at-Tirmizi, kitab as-Shalat no. 291 dan kitab as-Syir no. 1474 dll.

[6] Fath al-Bari jilid 1 hal.370.

[7] Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Dar al-kitab al-Arabi, jilid 1 bab fi al-Mawadzi Allati la Tujawizu Fiha ash-Shalat hal 182.

[8] Irsyad as-Sari hal. 435.

[9] Subul as-Salam fi Syarh Bulugh al-Maram jilid 1 bab Tayamum hal. 110.

[10] Sunan Abu Daud , jilid 1 kitab as-Shalat hal. 100 no. 338, Sunan an-Nasa’I kitab at-Tabliq no. 1071, Musnad Ahmad Baqi Musnad al-Mukatsirin no. 13982 dan no. 13983 dengan perbedaan yang tidak terlihat.

[11] As-Sunnah al-Kubro jilid 2 hal. 106.

[12] Ibid jilid 2 hal. 105.

[13] Setelah bercerita mengenai hadis mendinginkan pasir, Baihaqi meriwayatkan hadis lain yang menetapkan diizinkannya sujud pada kain, tanpa bersyarat. Tapi sejak ia tidak menerima hadis yang terakhir, setelah itu ia menulis “bagaimanapun lebih disukai sujud bukan pada kain”, as-Sunan al-Kubro dar al-Fikr hal. 442 no. 2723.

[14] Shahih Muslim, kitab al-Masajid no. 981 dan 982, Sunan an-Nasa’I kitab al-Mawaqit no. 493, Sunan Ibn Majah kitab as-Shalat no. 667, Musnad Ahmad, Musnad al-Basriyin no. 20144 dan 20153, as-Sunan al-Kubro jilid 2 kitab as-Shalat Jama’ Abwab Sifat as-Shalat hal. 105 dalam versi yang dipublikasikan oleh dar al-Fikr hal. 442 no. 2728, hampir yang diriwayatkan oleh al-Mu’jam al-Kabir jilid 4 hal. 80 dan Shu’ar Ashab al-Hadis jilid 1 hal. 49 dab sebagainya.

[15] Fath al-Bari dar al-Ma’rifat no. 1379, jilid 2 hal. 16.

[16] Ibid jilid 1 hal. 110.

[17] Ibid.

[18] Sunan Ibn majah kitab as-Shalat no. 668.

[19] Fath al-Bari jilid 1 hal. 110.

[20] Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Bani Hasyim no. 2473.

[21] Sunan Turmuzi kitab as-Shalat no. 250, Sunan Abu Daud kitan as-Shalat no. 730 (dengan sedikit perbedaan redaksi).

[22] Dalam Sunan Abu Daud kitab as-Shalat no. 527, ada hadis lain yang mengatakan, “setelah shalat dengan Nabi SAW kami melihat beliau menyentuhkan dahi dan wajahnya ke bumi”. Dalam ungkapan “ke bumi” kata penghubung ب adalah menjelaskan maksud dari menyentuhkan, karena hal itu menjadi jelas bahwa Nabi Muhammad SAW selalu menempatkan dahinya diatas bumi kapanpun beliau melakukan sujud. 

[23]Musnad Ahmad, Musnad Kufiyin no. 18101.

[24] Ibid hal. 18109.

[25] Sunan Abi Daud kitab as-Shalat no. 730, Sunan ad-Darimi kitab as-Shalat no. 1259, Sunan ad-Daruquthi jilid 1 hal. 95.

[26] Telah disebutkan dalam versi lain “…tidak dapat menyentuhkan dahinya ke bumi”.

[27] Seperti yang telah dikutip sebelumnya, dalam hadis ini dan yang serupa lainya, bumi dikatakan sebagai hal yang dipertentangkan dengan yang selain darinya. Dalam hadis ini contohnya sujud pada kain telah disebutkan, seperti yang akan disebutkan kemudian, sujud ini hanya berlaku pada situasi ketika sujud pada bumi tidaklah mudah dan tidak memungkinkan untuk dilakukan. Lebih dari pada itu, hadis ini dan hadis yang serupa lainnya merupakan suatu yang kontras dengan mereka yang mengizinkan untuk melakukan sujud hanya pada kami.

[28] Shahih al-Bukhari, dar bin Katsir no. 801.

[29] Sunan Abu Daud kitab as-Shalat no. 777 dan 760.

[30] Musnad Ahmad bin Hambal al-Baqi Musnad, al-Anshar no. 23170, Sunan Abu Daud kitab as-Shalat no. 1108.

[31] Jelas Nabi SAW menempatkan dahinya tepat diatas bumi.

[32] As-Sunan al-Kubra jilid 2 hal. 104.

[33] As-Sunan al-Kubra.

[34] Ibid hal. 106.

[35] At-Thabaqat al-Kubra jilid 6 hal. 79 cetakan Bairut.

[36] Fath al-Bari jilid 1 hal 410, edisi ke-2.

[37] Al-Musannaf bin Abi Shaybah, Maktab ar-Rusyd 1409 jilid 1 hal. 246.

[38] Fath al-Bari cetakan al-Ma’rifa edisi ke-2 jilid 1 hal. 410.

[39] Ibid.

[40] Al-Mudawana al-Kubra jilid 1.

[41] Khumra adlah sebuah keset kecil yang dibuat dari cabang pohon palem.

[42] Sunan Turmizi kitab as-Shalat no. 348, Musnad Ahmad Baqi Musnad Anshar no. 25360 dan 25519 juga Kanz al-Ummal jilid 4 hal. 79 dan jilid 7 hal. 342 dan jilid 8 hal. 86 no. 295 dan 4559.

[43] Shahih Muslim kitab Sifat al-Qiyamah no. 5005, Musnad Ahmad Baqi Musnad al-Mukatsirin no. 8475.

[44] Wasa ‘il as-Syiah, jilid 5 abwab ma yasjudu alayh bagian pertama hal. 343 no. 6740.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: