Gus Dur: “Seret Provokator Insiden Bangil ke Meja Hijau!”

Desember 22, 2007

 Acara KONGKOW BARENG GUS DUR yang seyogyanya ON AIR di Radio Utan Kayu FM 68H Jakarta? setiap hari Sabtu, terpaksa OFF AIR pada hari ini (Jumat 07 Des 2007) dikarenakan Gus Dur harus keluar kota pada esok harinya.

Kali ini Acara KONGKOW BARENG GUS DUR kedatangan rombongan dari Bangil, yakni Ust. Muhammad BSA, Ust. Ali Zaenal Abidin, (YAPI) dan Ust. KH. Khoiron Syakur (Sesepuh NU Bangil). Kedatangan mereka adalah untuk silaturahim dengan Gus Dur sekaligus melaporkan adanya Tindakan Kekerasan terhadap sebuah masjid bernama Masjid Jarhum dan juga rumah ust. Ali Zaenal Abidin & Ust. Muhammad bin Alwi dengan mengatasnamakan mazhab atau golongan Islam, pada 19 November 2007 silam. Baca entri selengkapnya »


Pesan Haji Rahbar

Desember 21, 2007

rahbari_new.jpg

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur bagi Allah, Tuhan alam semesta. Salawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad Al-Mushtofa, dan keluarganya yang termulia serta para sahabatnya yang terpilih.

Salam kepada para peziarah rumah Allah swt, kepada para tamu tanah kekasih, dan kepada para penyambut seruan-Nya. Salam khusus kepada hati-hati yang kembali segar mengingat Allah swt, dan yang terbuka untuk menerima limpahan karunia dan rahmat-Nya.

Pada hari-hari ini, pada malam-malam ini, dan pada detik-detik bak pualam ini, betapa banyak manusia yang dengan penuh kesadaran jiwa melepaskan diri mereka dalam pesona spiritual, dan menerangi hati dan jiwa mereka dengan ketaubatan dan keinsafan. Mengikis karat-karat dosa dan kesyirikan dari diri mereka di tengah ombak rahmat Allah yang datang silih berganti ke tanah suci. Salam Allah swt  bagi hati-hati ini dan kepada para pemiliknya.

Sepatutnya saudara dan saudari menyadari kesempatan besar ini serta memanfaatkannya. Jangan sampai hati kita disibukkan masalah duniawi yang sudah menjadi kesulitan kita sehari-hari. Dengan mengingat Allah swt, bertaubat dan merendahkan diri, serta dengan tekad yang kuat untuk memegang erat kebenaran, berbuat kebajikan, dan berpikir lurus, serta memohon bantuan dari Allah swt, terbangkanlah hati kalian yang merindu ke atmosfer tauhid dan spiritualitas yang murni, dan bekalilah diri kalian untuk tetap bertahan di jalan Allah swt dan shirotul mustaqim. Baca entri selengkapnya »


Ahmadi Nejad : Iran dan Arab Saudi Bersaudara

Desember 21, 2007

ahmadinejad13.jpg

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, menyatakan bahwa Iran mempunyai hubungan persaudaraan dan persahabatan dengan Arab Saudi. Ahmadinejad kemarin malam di hadapan para jamaah haji di Mina mengatakan, “Kedua negara masing-masing menekankan untuk menjaga kawasan bangsa-bangsa Islam dan memperkuat hubungan persaudaraan antar umat Islam.”

Seraya menegaskan pentingnya langkah untuk menghindari perpecahan antar-umat Islam, Ahmadinejad menandaskan bahwa mengajak persaudaraan dan memperkuat hubungan persahabatan antar umat Islam adalah di antara faktor yang mendorong dirinya untuk ikut serta dalam manasik haji. Kemarin malam, Ahmadinejad dalam pertemuannya dengan Wakil Hizbullah Lebanon, Sheikh Mohammad Yazbek, menyebut Palestina sebagai bagian dari Islam, dan mengatakan, “Perjuangan bangsa Palestina yang tangguh membuat bangsa ini optimis dalam menghadapi Rezim Zionis Israel.”


Menggugat Abu Hanifah

Desember 21, 2007

Dia adalah Nu’man bin Tsabit. Dia lahir pada tahun 80 Hijrah, pada masa kekhilafahan Abdul Malik bin Marwan. Dia meninggal dunia pada tahun 150 Hijrah. Abu Hanifah tumbuh di kota Kufah pada masa kekuasaan Hajjaj. Pada masa itu Kufah merupakan salah satu kota besar Irak, yang berkembang di dalamnya berbagai majlis ilmu. Suasana saling berlawanan dan berbagai pendapat yang saling ber-tentangan di dalam masalah politik, ilmu dan keyakinan, yang terjadi pada masa itu, mengundang kebingungan. Pada suasana yang seperti ini Abu Hanifah cemerlang di dalam bidang ilmu kalam, diskusi dan perdebatan. Kemudian dia pindah ke majlis fikih, hingga mengkhusus-kan diri kepadanya. Dia berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman, yang meninggal pada tahun 120 Hijrah. Setelah Hammad bin Abi Sulaiman meninggal dunia, reputasi dan nama Abu Hanifah menjadi terkenal. Dia juga berguru kepada guru-guru yang hidup pada zaman-nya. Dia menghadiri pelajaran ‘Atha bin Rabah di Mekkah, pelajaran Nafi —bekas budak Ibnu Umar— di Madinah, dan guru-guru yang lainnya. Namun dia banyak berteman dengan Hammad bin Sulaiman. Abu Hanifah telah meriwayatkan dari Ahlul Bait, seperti Imam Muhammad al-Baqir dan anaknya Imam Ja’far ash-Shadiq as. Baca entri selengkapnya »


Hawa Nafsu dalam Quran dan Hadits

Desember 18, 2007

Diriwayatkan dari Imam Al-Baqir bahwa Rasulullah SAWW bersabda, Allah SWT berfirman: “Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, keperkasaan-Ku, nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang hambapun yang mengutamakan keinginannya (nafsunya) di atas keinginan-Ku, melainkan Aku kacaukan urusannya, Aku kaburkan dunianya dan Aku sibukkan hatinya dengan dunia serta tidak Aku berikan diinia kecuali yang telah kutakar untuknya.

Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, keperkasaan-Ku, nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang hambapun yang mengutamakan keinginan-Ku di atas keinginan (nafsu) dirinya melainkan Aku suruh malaikat untuk menjaganya, langit dan bumi menjamin rezekinya dan menguntungkan setiap perdagangan yang dilakukannya serta dunia akan datang dan selalu berpihak kepadanya”. Baca entri selengkapnya »


Bencana Saqifah

Desember 18, 2007

Para sejarahwan menyebutkan bahwa kekhalifahan Abu Bakar diperoleh melalui jalan pencalonan dan pemilihannya di Saqifah Bani Sa’idah. Peristiwa Saqifah, pada kenyataannya merupakan pijakan dasar yang dijadikan sandaran oleh Abu Bakar di dalam kekhalifahannya atas kaum Muslimin. Tidak mungkin seorang Muslim berpegang kepada kekhalifahannya kecuali jika dia mempercayai bahwa apa yang terjadi di Saqifah itu benar, dan menganggapnya sebagai satu-satunya jalan untuk bisa menentukan khalifah kaum Muslimin. Oleh karena pada pembahasan yang lalu kita telah membuktikan ketidakbenaran konsep musyawarah sebagai alat untuk mengangkat khalifah kaum Muslimin, maka pada kesempatan ini kita bermaksud ingin mengemukakan peristiwa Saqifah, yang merupakan penerapan lapangan dari konsep musyawarah, sehingga kita dapat menyingkap sampai sejauh mana kelurusan dan kebenaran konsep ini, untuk kemudian kita menyimpulkan apakah akan berpegang kepadanya atau tidak berpegang kepadanya. Baca entri selengkapnya »


Bencana Saqifah

Desember 18, 2007

Para sejarahwan menyebutkan bahwa kekhalifahan Abu Bakar diperoleh melalui jalan pencalonan dan pemilihannya di Saqifah Bani Sa’idah. Peristiwa Saqifah, pada kenyataannya merupakan pijakan dasar yang dijadikan sandaran oleh Abu Bakar di dalam kekhalifahannya atas kaum Muslimin. Tidak mungkin seorang Muslim berpegang kepada kekhalifahannya kecuali jika dia mempercayai bahwa apa yang terjadi di Saqifah itu benar, dan menganggapnya sebagai satu-satunya jalan untuk bisa menentukan khalifah kaum Muslimin. Oleh karena pada pembahasan yang lalu kita telah membuktikan ketidakbenaran konsep musyawarah sebagai alat untuk mengangkat khalifah kaum Muslimin, maka pada kesempatan ini kita bermaksud ingin mengemukakan peristiwa Saqifah, yang merupakan penerapan lapangan dari konsep musyawarah, sehingga kita dapat menyingkap sampai sejauh mana kelurusan dan kebenaran konsep ini, untuk kemudian kita menyimpulkan apakah akan berpegang kepadanya atau tidak berpegang kepadanya. Baca entri selengkapnya »


Masakil

Desember 13, 2007

“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalahnya. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya nenjadi kesegaran dan kebahagiaan”behesti.


Apa yang telah Dilakukan Wanita ini?

Desember 13, 2007

Imam Ali as. menuturkan, “Pada suatu hari, Sayyidah Fathimah as. datang kepada Nabi Saw., dan aku melihat Nabi begitu keras menangis.” Imam Ali as. melanjutkan, Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu! Gerangan apakah yang membuatmu menangis?” Baca entri selengkapnya »


Berkah Keagungan Keluarga Nan Suci

Desember 13, 2007

Suatu hari, seorang Yahudi mendatangi Rasulullah Saw. Dia berdiri di hadapan beliau dengan muka murung. Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah keperluanmu?” Yahudi menjawab, “Apakah engkau yang paling utama atau Musa bin Imran; seorang nabi yang diajak berbicara oleh Tuhannya, diturunkan Taurat kepadanya, kemudian dihadiahkan tongkat kepadanya, dapat membelah lautan, dan awan membuntutinya ketika ia berjalan.”

Rasulullah Saw. berkata, Aku bukan pengungkap kebaikan diri sendiri, namun sebaiknya aku katakan apa adanya, ‘Ketika Adam as. melakukan kesalahan, maka penyebab ia dimaafkan adalah ucapannya kepada Allah, “Ya Allah! Atas kedudukan Muhammad dan keluarga Muhammad, ampunilah dosa-dosaku! Dan Allah pun memaafkannya.”

“Ketika Nuh menaiki perahunya dan ketakutan tenggelam, ia meminta kepada Allah, ‘Ya Allah! Aku meminta kepada Engkau atas kedudukan Muhammad dan keluarga Muhammad, selamatkanlah aku dari tenggelam!” Allah pun menyelamatkannya dari tenggelam. “Dan ketika Ibrahim Al-Khalil berada dalam lalapan api, ia meminta, ‘Ya Allah! Aku meminta kepada Engkau atas Kedudukan Muhammad dan keluarga Muhammad, selamatkanlah aku dari api ini!’ Maka, Allah menjadikan api tersebut dingin dan tidak satu pun dari badan Ibrahim yang terbakar. “Dan ketika Musa melemparkan tongkatnya sehingga berubah menjadi naga yang mengerikan, ia merasa ketakutan dan berkata, ‘Ya Allah! Aku meminta kepada Engkau atas kedudukan Muhammad dan keluarga Muhammad, lindungilah aku dan bebaskanlah aku dari ketakutan!’ Saat itu pula Allah berfirman, “ Janganlah takut! Sesungguhnya engkau akan menang.”

Kemudian Rasulullah berkata, “Wahai Yahudi! Seandainya Musa hidup pada zaman ini dan tidak beriman kepadaku dan kenabianku, maka iman dan kenabiannya tidak berarti bagi dirinya. “Wahai Yahudi! Salah satu dari cucu keturunanku adalah Mahdi. Ketika ia muncul, Isa bin Maryam akan diutus dari langit untuk membantunya. Isa akan mengutamakan Mahdi atas dirinya dan ia akan shalat di belakangnya.” bihar alanwar jilid 6 hal. 366.