Ghulat dalam Ahli Sunnah (bagian 1)

Ghulu merupakan sebuah penyakit yang menggrogoti tatanan kehidupan manusia, yang menjadi bencana keterbelakangan dan keterpurukan manusia. Ghulu lahir bersamaan dengan lahirnya manusia, sebagai sebuah fenomena sejarah yang tidak akan pernah terpisahkan. ghulu adalah menyakini manusia atau sesuatu melebihi batas kewajaran, seperti :

1. Menyakini Isa al-Masih sebagai tuhan atau anak tuhan.

2. Menyakini bunda Maryam sebagai sesembahan manusia.

3. Menyakini Ali bin Abi Thalib sebagai pencipta manusia dan pengendali alam semesta.

4. Menyakini Ibrahim putra Rasulullah saw yang wafat pada masih kecil, sebagai penyebab terjadinya gerhana matahari dan bulan.

5. Menyakini fatwa fulan mujtahid mendapatkan legalitas imam zaman dan terhindar dari kesalahan.

6. Menyakini sebuah pohon sebagai tempat meminta hajat.

7. Menyakini matahari sebagai satu-satunya maujud yang patut di sembah, karena matahari adalah sumber cahaya dan lambang kehidupan.

8. Menyakini kesucian sungai gangga di India, dan barang siapa yang mandi disana akan mendapatkan keberkahan, melebur dosa-dosa dan hajatnya terkabulkan.

9. Menganggap suci sapi jenis tertentu, layak untuk disembah dan kotorannya adalah keberkahan.

 

keyakinan-keyakinan extrim seperti ini terkadang didapati secara turun temurun dan tak jarang dari mereka yang memiliki keyakinan seperti ini, bersikap ifrad bahkan lembaran-lembaran sejarah berkuah darah menjadi saksi bisu, demi mempertahankan keyakinannya atau berkurban demi sesuatu yang disembahnya.

 Islam dan Ghulat

            Islam adalah agama yang dibawa oleh para Nabi as, dan salah satu misi mereka adalah memerangi ghulat dalam agama serta memberi petunjuk kepada mereka yang memeliki keyakinan tersebut. Islam mengecam orang-orang nasrani yang melampui batas dalam menyakini al-Masih as, hal ini bisa kita lihat dalam Quran surat Ali Imran ayat 59, an-Nisa’ ayat 171-172, al-Maidah ayat 72, 73, 75, 77, 116, 117 serta 30-31 surat Bara ‘ah bahwa Allah swt sangat keras memerangi orang-orang nasrani yang menyebarkan keyakinan batil tentang al-Masih dan Bundah Maryam, dalam hal ini Allah menggunakan ibarat Qatalahumullah,[1] yakni Allah memerangi dan melaknat mereka.

            Khitab Allah swt dalam 11 surat di atas kepada orang-orang nasrani yang mengghulukan Nabi Isa dan Bundah Maryam, memuja dan menyembah meraka untuk segerah melucuti keyakinan sesat tersebut.

            Dalam sebuah surat Allah berfirman, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimatNya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh daripada-Nya”.[2]

            Dalam ayat lain Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata; “sesungguhnya Allah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih sendiri berkata; “hai Bani Israil sembahlah Allah tuhanku dan tuhanmu”, sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga”.[3]  

Pada dasarnya ayat diatas sedang menjelaskan latar belakang kehidupan dan kepercayaan Bani Israil, sementara percakapan Allah swt dan Isa tidak pernah terjadi. Sebagaimana Sayyid Murtadha Alamal Huda, berkenaan dengan ayat, “Dan ingatlah ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman); “bukankah Aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab; “betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi”.[4] menjelaskan bahwa peristiwa pengambilan kesaksian terus berlangsung sampai akhir zaman, bukan menceritakan pada suatu zaman Allah swt mengambil kesaksian anak-anak Adam.[5]    

Dari ayat-ayat al-Quran yang turun berkenaan aqidah ghulu orang-orang nasrani, menjelaskan bahwa keyakinan-keyakinan tersebut ada semenjak Nabi Isa as dilahirkan.

 Makna Ghulu

            Dalam tafsir ayat 72 surat Ma ‘idah, dinukil sebuah riwayat dari Muhammad bin Ka’ab, sebagai berikut; “setelah Nabi Isa as diangkat, diantara 100 orang ulama Bani Israil dipilih 4 orang dari mereka untuk mengemukakan pendapat mereka tentang al-Masih. Salah satu dari mereka berkata; “ Apakah selain Tuhan ada yang Gaib?, mereka menjawab; tidak. Lalu ia berkata; “bukankah Isa as gaib dari kalian, maka kita harus katakana bahwa Isa adalah Tuhan. Kapanpun ia mau ia akan tinggal di bumi atau naik kelangit”. Ulama yang lain berkata; “Kita mengenal Isa dan Bundah Maryam, serta mustahil Tuhan memiliki Ibu, maka kita harus katakana bahwa isa adalah bukan tuhan tetapi anak tuhan”. Ulama yang lain berkata; “Bukankah Isa as pernah berkata; (aku adalah utusan Allah dan kalimatNya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh daripada-Nya), dan saya menyakini apa yang dikatakan oleh Isa al-Masih”. Setelah masing-masing dari para ulama Bani Israil mengeluarkan pendapatnya, masyarakat mulai berbondong-bondong mengikuti salah satu dari mereka hingga terbentuk tiga kelompok yang saling bersebrangan”.[6]

            Kalau kita menganggap otentik riwayat di atas, maka jelas hanya 2 kelompok saja yang melampui batas. Penyimpangan ini terjadi di karenakan  dari dua orang ulama nasrani yang menggunakan istidlal bongol, serta kondisi kejiwaan masyarakat saat itu yang di liputi cinta buta terhadap Nabi Isa as, hingga mereka menerima akidah tersebut dan terjerumus dalam kebodohan yang nyata.

            Akar umbi dari dua kelompok tersebut adalah kebodohan dan cinta buta yang membawa mereka pada jurang kehancuran. Sebagaimana al-Quran telah mengisyaratkan untuk keluar dari belenggu  kebodohan dan cinta yang melilit mereka dan kembali pada hukum akal. Sebagaimana yang dilakukan oleh ulama nasrani yang lain, yang menolak mentah-mentah ghulat, dan menyakini Isa bukan Tuhan dan bukan pula anak tuhan akan tetapi ia adalah utusan  Allah dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh daripada-Nya.

 Ghulu berkenaan dengan Abu Hanifah            Demikian pula yang terjadi pada orang-orang yang menokohkan atau mengikuti seseorang, di karenakan cinta dan kebodohan mereka terjerumus dalam lembah ghulat. Tal jarang dari mereka melampui batas dalam mengagung-agungkan orang yang ditokohkannya,  bahkan mereka tak segan-segan membuat hadist-hadist palsu. Sebagai mana lembaran-lembaran sejarah mencatat apa yang dilakukan oleh para pengikut Abu Hanifah, membuat keutamaan-keutamaan palsu, bahkan lebih tinggi dan mulia dari para Nabi, seperti riwayat di bawah ini; “Salah satu dari karamah Abu Hanifah, adalah Hidr as selama kurun waktu 5 tahun setiap pagi datang kepada Abu Hanifah untuk mempelajari hukum-hukum islam. Tatkala Abu Hanifah meninggal, Hidr as bermunajat kepada Allah swt seraya berkata; “Ya Allah kalau daku memiliki kedudukan disisimu, maka berilah izin kepada Abu Hanifah memberi kuliah  kepadaku dari dalam kuburnya setiap pagi, hingga daku mengenal syariat Muhammadi. Allah swt mengabulkan munajat Hidr as dan ia hadir setiap pagi disisi kubur Abu Hanifah selama 25 tahun. Setelah selesai, Allah swt memerintahkan kepadanya untuk mengajar Qusyari tetang apa-apa yang dia terimah dari Abu Hanifah”.[7]              Kalau kita lihat dalam al-Quran bahwa  Hidr adalah seorang hamba shaleh yang disebut dalam surat Kahfi, dan Nabi Musa diperintahkan untuk belajar kepadanya. Musa yang kita kenal sebagai kalimullah dan salah satu Nabi Ulul ‘Azmi[8], dengan demikian keduduka Abu Hanifah dua kali lebih tinggi dari Nabi Musa as. Karena Hidr berkenaan dengan  pengatahuan-pengatahuan yang ia ajarkan kepada Nabi Musa as satu tingkat lebih tinggi darinya.             Demikian pula dengan Abu Hanifah yang selama 30 tahun memberi kuliah kepada Hidr, satu tingkat lebih tinggi darinya. Dan kalau kita bandingkan dengan Nabi Musa, maka Abu Hanifah dua tingkat lebih tinggi darinya.            Kalau memang Allah menghidupkan Abu Hanifah hingga Hidr belajar darinya, kenapa Allah memenjarakannya dalam kubur yang gelap gulita, tidak mengeluarkannya? Ada permusuhan apa antara Allah dengan Abu Hanifah hingga mencegahnya kembali ke bumi, malah memenjarakannya dalam kubur?. Kenapa Hidr harus melalui Abu Hanifah dan tidak belajar langsung kepada pembawa syriat, Muhammad saw?. Abu Hanifah dan Agama AllahKhatib Bagdadi melalui beberapa perantara, dari Muhammad bin Yazid, dari Sulaiman bin Qais, dari Abu al-Muala dan dari Aban bin Abi Ayasy, Anas meriwayatkan dari Rasulullah saw; “Akan datang sepeninggalku seorang lelaki yang dikenal dengan Nu’man, dan dipanggil dengan sebutan Abu Hanifah, yang akan menghidupkan Agama Allah dan sunnahku”.[9] Khatib mengatakan hadist ini batil dan palsu. Sementara Muhammad bin yazid hadistnya ditinggalkan (tidak dipakai), adapun Sulaiman bin Qais dan Abu al-Muala kedua-duanya majhul (tak dikenal) serta Aban bin Ayasy dikenal sebagai pendusta.            Para perawi tersebut sama sekali tidak menukil hadist dari Rasul mengenai imam Shadiq yang hidup sezaman dengan Abu Hanifah, berkenaan dengan kedatang seorang lelaki dari keturunanku yang bernama Ja’far bin Muhammad, yang akan menghidupkan Agama Allah dan sunnahku. Sebaliknya para perawi diatas memutar balikan fakta, bahwa imam Shadiq as mengatakan sesungguhnya Abu Hanifah adalah orang yang akan menghidupkan sunnah Rasulullah saw dan dia adalah rahbaniyun umat ini. perkataan ini mereka nukil dari Abu al-Bakhtari sebagai berikut; “Suatu ketika Abu Hanifah memasuki Majlis imam Ja’far Shadiq as, tatkala pandangan imam jatuh padanya beliau berkata; “aku melihat engkau adalah orang yang akan menghidupkan sunnah kakekku setelah masa-masa pencekalan (yang dilakukan Bani Umayyah), dan  pembredelan. Engkau adalah pengayom kaum dhuafa’ dan penunjuk jalan orang-orang yang tersesat. Allah swt akan memberi pertolongan kepadamu hingga rahbaniyun dapat menelusuri jalannya”. Abu al-Bahtari perawi hadist ini adalah Wahab bin Wahab, sebagaimana rijal al-Hadist mengatakan bahwa Abu al-Bakhtari adalah pendusta dan pembuat hadist-hadist palsu.  Abu Hanifah dan Imam Shadiq as            Sebagian pengikut Abu Hanifah dalam rangka menarik perhatian orang-orang syiah berusaha membuat hadist-hadist palsu. Diantaranya mereka mengatakan bahwa sewaktu ayahnya Abu Hanifah meninggal, ia masih dalam keadaan kecil kemudian imam Shadiq menikahi ibunya Abu Hanifah. Masa-masa itu Abu Hanifah tumbu besar dalam naungan imam Shadiq as dan waktunya banyak dihabiskan untuk menimbah ilmu darinya.            Riwayat-riwayat seperti ini bagi para sejarahwan dan muhadis sebagai lelucon dan bualan, karena bagaimana mungkin Abu Hanifah dikatakan anak kecil yang tumbuh besar dalam naungan imam Shadiq as, sementara umurnya 3 tahun lebih tua dari imam. Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H dan imam Shadiq lahir pada tahun 83 H begitu sejarah mencatat.[10]            Pada dasarnya mereka tidak ada kesepakatan dalam membuat hadist-hadis palsu tentang keutamaan-keutamaan Abu Hanifah hingga perkataan mereka tidak seirama. Sebagian mengatakan Abu Hanifah mualim Hidr yang menjadikanya lebih tinggi dari para Nabi, maka kalau demikian Abu Hanifah tidak butuh pada seorang seperti imam Shadiq, karena sebagaian dari mereka mengatakan Abu Hanifah tumbuh besar dalam bimbingan imam Shadiq as. Ghulu terhadap Abu Hanifah            Sekarang perlu kiranya saya bawakan beberapa kebohongan atau riwayat-riwayat palsu yang ingin mengangkat Abu Hanifah, sebagi berikut;

  1. Diriwayatkan bahwa al-Masih as waktu kembali kebumi bertaqlid kepada Abu Hanifah serta menghukumi sesuatu berdasarkan mazhabnya.[11]
  2. Diriwayatkan Bahwa Abu Hanifah selalu melakukan 2 rakaat sholat malam, dan dalam setiap rakaatnya ia menghatamkan al-Quran.[12]
  3. Diriwayatkan Bahwa Abu Hanifah selama 40 tahun tidak tidur dan sholat subuh dengan wudhu bekas sholat isa’.[13]
  4. Diriwayatkan pada suatu ketika seekor kambing hilang, Abu hanifah bertanya kepada pemiliknya; “seekor kambing masa hidupnya berapa tahun?”, pemiliknya menjawab; “10 tahun”. Kemudian Abu Hanifah selama 10 tahun tidak makan daging, karena takut salah satu dari daging-daging yang dijual di pasar adalah milik orang yang kehilangan kambing.[14]
  5. Diriwayatkan Abu Hanifah pada satu tempat 70.000 kali menghatamkan al-Quran secara kontinyu, dan tidak bergerak dari tempatnya sama sekali.[15]

Seandainya  Abu Hanifah setiap kali menghatamkan al-Quran, memerlukan waktu 1 jam, maka ia selama 8 tahun tidak tidur, makan, minum dan tidak melakukan pekerjaan apapun selain membaca al-Quran. Akan tetapi ini hanya sebuah ihtimal saja kalau dia memang mampu menghatamkan al-Quran selama 1 jam. kalau tidak, maka membaca al-Quran dengan cara paling cepat paling tidak membutuhkan waktu 10 jam. dengan demikian ia akan menghabiskan waktunya selama 80 tahun tanpa tidur, makan, minum dan tanpa melakukan kegiatan apapun selain membaca al-Quran. Sementara umurnya tidak sampai 80 tahun. Demikianlah ghulat telah membutahkan mata hati, menjungkirbalikan akal dan menjerumuskannya kedalam kesesatan yang nyata.

  1. Diriwayatkan bahwa Allah swt menyebutkan sifat-sifat Abu Hanifah dalam Taurat, memberikan kabar gembira akan kedatangan pribadi agung seperti Abu Hanifah.[16]
  2. Diriwayatkan bahwa Allah swt berkhitab kepada Abu Hanifah, seraya berkata; “Aku akan memberikan ampunan dan rahmat kepadamu dan orang-orang yang berpegang teguh dengan mazhabmu”.[17]
  3. Diriwayatkan bahwa Nabi saw cemburu kepada Daud yang memiliki Luqman Hakim di tengah-tengah umatnya, sementara dalam umat islam tidak ada orang sepertinya. Kemudia Jibril as datang kepada Nabi dan membawah kabar gembira akan kedatangan Abu Hanifah ditengah-tengah umatmu, dan hikmahnya lebih tinggi dari hikmah yang dimiliki Luqman.[18]

Lukman yang hidup dimasa Nabi Daud as, banyak menolong dengan hikmah yang dimilikinya, dan kecemburuan Nabi saw atasnya adalah dari sisi ini. Kalau memang demikian kenapa Abu Hanifah dimasanya tidak seperti Luqman dimasa Nabi Daud as?. Bukankah Rasulullah saw adalah pemilik puncak hikmah yang telah Allah berikan kepadanya, kenapa harus membutuhkan orang seperti Abu Hanifah?.Seandainya riwayat ini benar, lalu kenapa Allah tidak menciptakan Abu Hanifah dimasa Nabi saw, hingga beliau dapat mengambil manfaat dari keberadaannya? Bukan 70 tahun setelah ruh Nabi saw kembali disisi Tuhan. Apakah Allah tidak memperhatikan kecemburuan Nabi saw dan tidak mengabulkan permohonannya, dengan jarak waktu 70 tahun antara Nabi dengan Abu Hanifah?.Pada akhirnya para pembuat riwayat-riwayat palsu terbentur dengan kebodohan dan cinta buta yang membuatnya terjerumus dalam kesesatan. Secara alami cinta yang berlebihan telah mengalahkan akal, sementara kebodohan telah menguasai diri mereka. Ghulu dalam mencaci Abu Hanifah            Tidak hanya para pencinta Abu Hanifah yang melampui batas dalam memujinya, ternyata orang-orang yang berseberangan dengannya juga telah melampui batas dalam mencacinya. Berikut ini beberapa contoh ghulu yang dilakukan para penentangnya;

  1. Dikatakan Abu Hanifah adalah zindiq, telah keluar dari agama dan aqidahnya sesat.[19]
  2. Dikatakan bahwa Abu Hanifah menolak al-Quran dan sunnah serta tidak memiliki iman.[20]
  3. Dikatakan bahwa Abu Hanifah dua kali telah kafir dan telah taubat dari kekufurannya.[21]
  4. Dikatakan bahwa tidak ada kesesatan dan kerusakan yang melebihi apa yang telah dilakukan Abu Hanifah. [22]
  5. Dikatakan kalau Abu Hanifah melakukan pembrontakan terhadap islam, kerusakan dan kerugian yang dihasilkan lebih sedikit dari kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan dari pemikiran, mazhab dan fatwa-fatwa yang ia keluarkan.[23]

Ghulu dan ifrad yang dilakukan para pecinta Abu Hanifah dan musuh-musuhnya dalam memuji dan mencelanya telah menjungkir balikan akal sehat mereka. Dan perlu kiranya kita mengadakan kajian ulang yang tidak memihak kelompok manapun, untuk lebih mengetahui apa tujuan dan latar belakang mereka bersikap ifrad seperti ini. Dan sebenarnya Abu Hanifah manusia macam apa?.                    

           



[1] Bara ‘ah ayat 30.

[2] Q.S. 4 : 171.

[3] Q.S. 5 : 72.

[4] Q.S. 7 : 172.

[5] Amali al-Murtadha cetakan Mesir, jilid 1 hal. 30.

[6] Tafsir Dur al-Mansur jilid 2 hal. 299.

[7] Imam Shadiq wa al-Mazahib al-Arba ‘ah jilid 1 hal. 299.

[8] Sebagaimana para mufasir sebutkan Majma’ al-Bayan jilid 3 hal. 480.

[9] Tarikh Bagdadi jilid 2 hal. 289.

[10] Imam Shadiq wa al-Mazahib al-Arba ‘ah jilid 1 hal. 293.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Imam Shadiq wa al-Mazahib al-Arba ‘ah jilid 1 hal. 299.

[20] Ibid.

[21] Ibid.

[22] Ibid.

[23] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: