Israel: Di Bibir Jurang Kehacuran(bagian 1)

Pemadangan atas adegan-adegan yang menampilkan pembunuhan dan penganiayaan kejam terhadap penduduk di Jalur Gaza dan Tepi Barat, menimbulkan kemarahan masyarakat luas dan kecaman dari seluruh penjuru dunia. Sebagaimana kita rujuk dari media massa, sampai sejauh dokumen ini ditulis, nyaris seratus orang -sebagian besar adalah warga Palestina- terbunuh oleh tentara pendudukan Israel.

Sementara Barak memberi jaminan kepada dunia mengenai keinginannya atas perdamaian, tentara Israel terus saja membunuhi dan mencederai warga Palestina. Kekejaman para tentara yang tidak punya hati itu terungkap jelas di depan mata penduduk dunia saat melakukan pembunuhan berdarah dingin terhadap Muhammad Al-Dorra, seorang bocah Palestina yang menghembuskan nafas terakhir di pelukan ayahnya setelah menjadi sasaran rentetan tembakan membabi buta selama 45 menit. Peristiwa ini kemudian menjadi simbol perlawanan bagi rakyat Palestina. Tindakan brutal yang dilakukan dengan sengaja oleh tentara Israel ini diblejeti oleh Guardian (2.10.00): “Diterjang oleh 4 butir peluru, anak itu (Mohammad Al-Dorra) akhirnya meninggal dalam dekapan ayahnya… setelah mengalami masa yang mencekam dari balik tembok perlindungan selama terjadinya bentrok senjata antara tentara Israel dari atas menara pengawas dengan para pemuda Palestina. Ayahnya, Rami, yang ditembus 8 peluru, telah mati-matian melambaikan tangan kepada tentara Israel yang berada di sisi lain persimpangan jalan untuk membiarkan anaknya tetap hidup. Namun 15 lubang besar di sebidang kecil tembok perlindungan di mana mereka terjebak membuat tempat itu menjadi suatu tempat terbuka dan terlihat jelas oleh tentara Israel yang mengarahkan senapan mesinnya kepada kedua orang tersebut. Rami-lah sasaran tembak mereka.”

Peristiwa penembakan ini bukanlah hal yang bisa dipisahkan dengan hal lainnya. Pemberontakan terhadap penguasa Israel telah membangkitkan seluruh penduduk untuk berjuang. Bahkan anak-anak belia yang berusia sekitar 6 sampai dengan 8 tahun telah ikut ambil bagian mendirikan barikade-barikade di jalan-jalan. Ketika perhitungan jumlah korban mencapai 49 orang warga Palestina tewas, dilaporkan bahwa 13 di antaranya adalah anak-anak, dan korban termuda adalah seorang anak perempuan berusia tidak lebih 2 tahun! Para dokter dari Rumah Sakit Shifa di Gaza (tempat dirawatnya 11 orang tewas dan 284 orang yang luka tembak) mengemukakan bahwa mayoritas korban mengalami luka tembak di tubuh bagian atas. Dua puluh persen dari pasien tertembak di bagian kepala. Dan dari jumlah keseluruhan korban (menurut Physician for Human Rights) 30 persen korban luka berat mengalami luka tembak pada daerah bagian perut ke atas. Seorang dokter Palestina berpendapat bahwa “Israel benar-benar berusaha membunuhi sebanyak mungkin orang (Palestina).”

Hal ini menjelaskan kemarahan yang membara di kalangan pemuda-pemuda Palestina dan keberanian luar biasa yang mereka tunjukkan dalam menghadapi tentara Israel dengan hanya bersenjatakan tongkat dan batu. Dan keinginan mereka yang kuat untuk melakukan pembalasan. Terbunuhnya dua orang tentara Israel oleh keroyokan segerombolan warga Palestina di Ramallah dengan sinisnya dipergunakan oleh pihak Israel dan sekutu Amerika Serikat mereka sebagai pembenaran untuk melakukan serangan udara yang ganas melalui helikopter-helikopter Israel. Clinton -yang telah membom Yugoslavia hingga menjadi puing-puing dan sekaligus merupakan orang yang bertanggung jawab atas kematian lebih dari sejuta orang anak-anak Irak akibat embargo brutal dan tak berprikemanusiaan – secara terbuka mencucurkan air mata buayanya atas kematian dua orang tersebut. Sudah pasti, dekatnya masa pemilihan presiden Amerika Serikat dan besarnya jumlah suara pemilih yang berasal dari kaum Yahudi lehib memiliki alasan terhadap adanya kecaman yang berbudi ini, ketimbang kepentingan kemanusiaan yang lebih murni terhadap kematian dua orang serdadu Israel itu. Gore dan Bush bersaing satu sama lain dalam ancaman-ancaman mereka tentang ganti rugi berdarah atas terjadinya pemboman terhadap sebuah kapal perang Amerika. Melimpah ruahnya propaganda yang sangat reaksioner ini, dengan campuran histeria dan kemunafikan di dalamnya, memungkinkan kita untuk memahami kepentingan sejati yang dimiliki Washington dan apa peranan mereka yang sesungguhnya di Timur Tengah.

Perdana Menteri Israel Barak menegaskan bahwa dia tidak tertarik untuk membicarakan perdamaian “sepanjang kekerasan terus berlangsung”. “Kami akan terus melakukan penembakan selama mereka (warga Palestina) melakukan pertempuran”. Kalimat ini mengimplikasikan adanya perang antara dua pihak, yang kuat dan yang “kejam”. Pernyataan ini sendiri terbukti merupakan sebuah kebohongan yang nyata. Barak terus saja bertindak seolah-olah warga Palestina bagaimanapun juga harus bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi! Ini jelas seperti tindakan seorang perampok yang mendobrak masuk ke dalam rumah kita dan kemudian berusaha membunuh kita dan keluarga kita, dan ketika kita mempertahankan diri, dan mulailah si perampok itu berteriak-teriak mengatakan bahwa dia telah menjadi sasaran tindak kekerasan. Persoalan yang ada di sini adalah siapa melakukan tindakan kekerasan terhadap siapa dan apa tujuannya. Kaum Marxis membedakan kekerasan reaksioner yang dilakukan oleh golongan yang berkuasa dan imperialis penindas dengan kekerasan yang dilakukan oleh rakyat tertindas yang melkukan perlawanan dalam tindak pembelaan diri. Menempatkan kedua hal ini pada tingkatan yang sama adalah sepenuhnya kemunafikan reaksioner -menyamaratakan kekerasan yang dilakukan oleh pemilik budak dan kekerasan yang dilakukan oleh budak tersebut adalah tindakan untuk memihak memihak kekerasan yang dilakukan oleh pemilik budak terhadap budak-budaknya. Jika suatu waktu kekerasan yang dilakukan oleh kaum tertindas mencapai bentuk yang ganas, hal itu hanyalah merupakan refleksi atas kelemahan mereka di hadapan para penyiksanya. Berhadapan dengan ketidakseimbangan yang menyolok dalam hal kekuatan, kaum tertindas akan berupaya dengan cara apapun yang dapat mereka lakukan untuk melakukan serangan balasan terhadap musuhnya.

Dalam pengertian militer hal ini merupakan pertarungan yang sama sekali tidak seimbang. Menurut analisis pertahanan, bahkan jikapun kita mengesampingkan keunggulan mematikan yang dimiliki Israel dalam kekuatan senjata dan perangkat lapis bajanya, apapun usaha yang dilakukan oleh pihak Otoritas Palestina untuk melakukan perang demi kemerdekaan akan menemui suatu pengepungan jangka panjang yang akan melumpuhkan pihak Palestina tanpa tentara Israel harus menurunkan persenjataan beratnya ke dalam medan tempur. Total kekuatan angkatan bersenjata Israel berjumlah lebih dari 173,000 orang dengan tambahan sebanyak 425,000 orang pasukan cadangan. Sedangkan pihak Otoritas Palestina hanya memiliki 35,000 orang tentara. Inilah yang dikatakan oleh barak sebagai “Perang” yang dilancarkan oleh warga Palestina terhadap Israel!

Apakah sejatinya kedua pihak yang terjebak dalam pertempuran ini? Di satu pihak adalah bala tentara profesional yang dipersenjatai lengkap, ditambah dukungan sebuah negara kaya raya dan digjaya. Sementara di pihak yang lain: rakyat biasa, kebanyakan adalah para pemuda, bersenjatakan tongkat dan batu serta segelintir senjata api yang tentu saja tidaklah dapat mengimbangi senjata-senjata penghancur modern yang digunakan Angkatan Bersenjata Israel. “Brigadir Jenderal Osama Al-Ali, mengomentari pembentukan “kerjasama” keamanan antara Angkatan Bersenjata Palestina dengan Israel, mengatakan ‘Bagaimana mungkin kita dapat melaksanakan gencatan senjata antara batu dengan senjata api. Itu hal yang konyol.'” (dikutip dari Guardian 2.10.00). Dalam konteks ini, penekanan atas telah terjadinya penghinaan moral sebagaimana diadopsi oleh Clinton dan Barak jelas menyengatkan bau busuk kemunafikan. Angkatan Bersenjata Israel benar-benar menikmati superioritas militer yang luar biasa besar. Hal ini telah jelas ditunjukkan dalam ketidakseimbangan yang kolosal antara jumlah korban Arab dengan jumlah korban Israel, sebagaimana kita lihat di awal dokumen ini. Hal ini bahkan diakui pula oleh pihak Israel sendiri.

Dari ketidakseimbangan kekuatan yang ekstrim serta kebrutalan tanpa batas yang ditunjukkan oleh angkatan bersenjata Israel, apakah ada keraguan bahwa orang-orang yang putus asa kadang kala nekat mengambil jalan yang tidak terbayangkan? Apakah dibenarkan untuk menyamakan tindak kekerasan yang terjadi di tengah bergolaknya suasana, yang dilakukan oleh orang-orang putus asa yang mengalami tekanan dan provokasi yang melebihi batas mereka untuk menanggungnya; dengan penggunaan kekuatan bersenjata yang luar biasa besar, yang penuh pehitungan dan berdarah dingin, kekuatan bersenjata yang dilatih oleh sebuah negara yang kuat? Ah, betapa diperlukannya Angkatan bersenjata (untuk menghadapi orang-orang itu)! Pihak yang berkuasa di Isarel sepertinya berpikir bahwa segala aksi yang mereka lakukan adalah sesuai dengan apa yang tertulis di dalam Kitab Injil, di mana kita dapat membacanya, “satu mata untuk satu mata dan satu gigi untuk satu gigi”. Namun kaum imperialis Israel tidak pernah mengikuti aturan ini. Nyawa dua orang tentara Israel mesti dibalas dengan begitu banyak nyawa warga Palestina. Pembenarannya, mereka hanyalah orang-orang Arab! Lebih tepatnya, insiden-insiden semacam yang terjadi di Ramallah telah dimanipulasi secara sinis oleh mesin propaganda Tel Aviv untuk melakukan pembenaran atas kebijakan-kebijakan tangan besi yang yang senantiasa mereka pergunakan untuk mempertahankan cengkraman mereka terhadap daerah-daerah pendudukan.

Sengaja kita pergunakan ungkapan “daerah pendudukan” disini, meskipun fakta bahwa apa yang disebut sebagai Otoritas Nasional Palestina (PNA) selama ini disangka betul-betul mengatur daerah teritorialnya sendiri. Sekarang hal ini telah terungkap jelas sebagai kebohongan dan sandiwara konyol, dan ia memang tak pernah lebih dari itu. Militer Israel kapan saja dapat mengintervensi, mengabaikan apa yang seharusnya merupakan hak PNA.bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: