ISRAEL ; Di Bibir Jurang Kehancuran (Bagian ke-2)

 PROVOKASI

Konflik sekarang ini dengan sengaja diprovokasi oleh pemimpin sayap kanan Israel dari partai LIKUD, Ariel sharon. Pada hari Kamis 28 September 2000, dikawal 1.000 orang polisi, ia mendatangi puncak bukit Al-Aqsa di bagian kota Yerussalem yang bertembok. Situs ini dianggap sebagai tempat suci ke-tiga di dalam agama Islam (dan juga merupakan tempat suci bagi orang yahudi). Tujuan Sharon adalah untuk menggarisbawahi dominasi Israel atas seluruh situs tersebut dan atas seluruh Yerusalem. Sharon memang memiliki catatan prestasi brutal. Jadilah tindakannya dilihat oleh kaum Muslim sebagai pelecehan terhadap kesucian tempat keramat itu. Itulah yang meletikkan api konflik yang tengah terjadi sekarang ini, namun, tentu saja, alasan-alasan sesungguhnya bagi terjadinya kebangkitan kembali bangsa Palestina untuk melawan terletak di lain tempat. Kebutuhan akan menampakkan dirinya melalui suatu kebetulan. Rakyat Palestina menginginkan tanah air mereka sendiri. Siapa yang dapat menyangkal mereka mengenai hak ini? Sebagaimana orang Yahudi atau Amerika, tak kurang dan tak lebih, mereka mempunyai hak untuk menentukan nasib mereka sendiri. Namun tercapainya hak menentukan nasib sendiri adalah sekadar alat untuk mencapai tujuan akhir. Mereka memandangnya sebagai sebuah langkah maju untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka. Tetapi apa yang mencuat sebagai “statelet” (negara bayi) Palestina sekarang ini senantiasa tidak dapat bertahan hidup. Sejak perjanjian Oslo dan Madrid, bukannya mengalami perbaikan, kondisi kehidupan malah memburuk dengan amat tajam. Akar penyebab terjadinya krisis ini adalah memburuknya kondisi ekonomi dan sosial masyarakat Palestina. Kemiskinan tersebar di mana-mana. Jalur Gaza menjadi daerah kaum miskin, dengan fasilitas sanitasi, kesehatan dan pendidikan yang amat minim. Sekitar 80 persen perekonomian di Tepi Barat Jalur Gaza bergantung pada Israel. Penutupan perbatasan yang di lakukan berulang kali oleh Israel melahirkan kesulitan besar bagi rakyat Palestina. Pada tahun 1987, 80.000 orang warga Palestina diperbolehkan masuk Israel; kini hanya 8.000 orang yang diizinkan. Tindakan kejam dan sewenang-wenang ini sengaja diciptakan oleh pihak Israel untuk menunjukan kepada rakyat Palestina siapa yang menjadi tuan, untuk menghina mereka dan menggaris bawahi kebergantungan mereka yang menghibakan kepada Israel. Mingguan Inggris The Observer (8.10.00) mejelaskan “Ö akar kemarahan warga Palestina tertancap jauh lebih dalam (dari pada sekedar insiden kematian Ar-Dorra) -hal itu terletak di dalam kebencian terhadap proses perdamaian yang berjalan begitu lamban serta kondiri ekonomi yang mengerikan buruknya.” Menurut CIA Factbook 1998, perkiraan rata-rata jumlah pengangguran di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1997 adalah 28 persen, meskipun beberapa sumber lain menyebutkan angka tersebut mencapai 33 persen. Buku yang sama juga menggambarkan situasi ekonomi dari daerah yang kini dikenal sebagai Otoritas Nasional Palestina (PNA):Di tahun 1991, kira-kira 40 persen buruh dari Jalur Gaza dipekerjakan secara lintas perbatasan oleh industri-industri, pada bidang konstruksi dan perusahaan pertanian di Israel, para buruh ini menghasilkan tambahan GDP bagi Jalur Gaza, dengan pengiriman uang gaji mereka, sehingga mencapai 50 persen. Untuk perdagangan luar negeri, Gaza bahkan mempunyai angka ketergantungan pada Israel hingga 90 persen. Krisis di Teluk Persia dan efek sesudah berakhirnya krisis tersebut memberi pukulan hebat bagi Gaza sejak Agustus 1990. Pengiriman uang dari buruh Gaza yang bekerja di negara-negara di Teluk Persia mengalami penurunan yang sangat drastis, pengangguran dan keresahan sosial meningkat, dan standar kehidupan jatuh. Penyebaran kembali pasukan Israel di daerah sekitar Jalur Gaza pada bulan Mei 1994 menambahi berbagai masalah pada tahap penyesuaian terciptanya perdamaian. Serangkaian gangguan ini berarti terjadinya penurunan yang sangat tajam terhadap penempatan tenaga kerja di Israel sejak tahun 1991 dan secara otomaris menurunkan jumlah GDP Jalur Gaza. Pada tahun 1996 diperkirakan sejumlah 378.000 orang berada dalam kamp-kamp pengungsi.”Situasi di Tepi Barat digambarkan sebagai berikut: “Industri-industri yang menggunkan teknologi maju atau yang memerlukan investasi berjumlah besar di Tepi Barat menjadi ciut nyalinya disebabkan kurangnya modal lokal dan kebijakan-kebijakan Israel yang membatasi pergerakan barang dan orang. Investasi modal sebagian besar berada dalam bidang perumahan, ini bukanlah asset yang produktif yang memungkinkan perushaan-perusahaan lokal Palestina dapat bersaing dengan perindustrian Israel. GDP Tepi Barat secara substansial ditunjang oleh oleh buruh-buruh yang bekerja di daerah Israel. Pengiriman uang dari para buruh yang bekerja di negara-negara Teluk Persia mengalami penrurunan yang sangat drastic setelah Irak melakukan invasi ke Kuwait di bulan Agustus 1990. pada saat berlangsungnya Krisis Teluk berakhir, banyak orang Palestina yang bekerja di negara-negara Teluk kembali ke daerah Tepi Barat, mengakibatkan lonjakan jumlah pengangguran. Pendapatan yang berasal dari ekspor juga mengalami penurunan dikarenakan jatuhnya pasar di Yordania dan negara-negara Teluk. Diperkirakan sekitar 147.000 orang berada di kamp-kamp pengunsi pada tahun 1996.”Dua puluh persen penduduk Tepi Barat dan 36 persen penduduk Jalur Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Perekonomian Israel berada dalam krisis. GDP jatuh sebesar 4,5 persen di tahun 1996 dan 1,9 persen pada tahun 1998. Pengangguran, yang pada masa-masa sebelumnya tidak nampak dengan jelas, telah mengalami peningkatan. Pada tahun 1997 penganguran telah mencapai 7,7 persen dan angka ini terus bertambah. Berbagai kerusuhan telah terjadi di Ofkim, Negev, tempat di mana angka penganguran mencapai 14.3 persen.Sebagian kelas yang berkuasa di Israel berkeinginan menjangkau akomodasi dan memperluas hubungan dagang dengan negara-negara Arab. Sebaliknya rezim-rezim Arab pun berupaya meningkatkan perdagangannya dengan Israel, dan ingin benar melakukan perjanjian perdagangan melalui perantara Palestina. Ujungnya, imperialisme Amerika Serikat juga menginginkan tercapainya stabilitas di Timur Tengah, tentu saja, supaya kepentingan-kepentingan strategis dan ekonomi mereka tidak terancam bahaya. Hal itulah yang berada di balik perjanjian Madrid dan Oslo. Namun seluruh rencana di atas tidak memperhitungkan kondisi nyata dari masyarakat Palestina. Ini semua adalah kondisi sosial ekonomi yang merupakan pokok mendasar yang menjelaskan reaksi rakyat Palestina terhadap provokasi yang dilakukan secara menyolok oleh Sharon. Kejadian itu hanyalah percikan api yang membakar situasi yang memang telah menjadi begitu mudah terbakar, dan dengan demikian apa yang disebut sebagai “proses perdamaian” kini telah menabrak dinding tembok yang tebal.PERANAN ARAFATSelama periode lalu, terdapat berbagai ilusi bahwa kepemimpinan PLO yang mengitari Arafat akan sukses mencapai keinginan panjang rakyat Palestina untuk memiliki Tanah Air. Namun kebenaran selalu berupa kenyataan. Perundingan-perundingan perdamaian sendiri sebagian besar merupakan hasil dari Intifada pada tahun 1980-an. Demikianlah yang telah kami uraikan pada dokumen kami mengenai Masalah Nasional (The National Question) yang terbit bulan Februari tahun ini.“Ö gerakan massa yang berlangsung selama beberapa bulan di Tepi Barat [yakni, Intifada] memberi hasil yang lebih baik bagi rakyat Palestina dari pada yang dihasilkan oleh Arafat dan rekan-rekannya dalam waktu 30 tahun”“Konsensus-konsensus yang ditawarkan oleh Tel Aviv sama sekali bukan hasil dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh PLO di pengasingan. Consensus itu sebagian besar merupakan hasil dari Intifada, yang mengguncang masyarakat Israel dan menyedot perhatian yang simpatik dari seluruh dunia”Namun kami juga menambahkan bahwa, “hal itu juga merupakan refleksi dari situasi baru dunia. Sejak runtuhnya Stalinisme, perimbangan kekuatan dunia mengalami perubahan. Amerika Serikat mencapai taraf dominasi yang gila-gilaan atas dunia. Hal ini berarti pula bahwa Washington tidak lagi terlalu bergantung pada Israel seperti semasa Perang Dingin. Imperialis Amerika Serikat mempunyai kepentingan-kepentingan ekonomi dan strategi yang vital di kawasan Timur Tengah, dengan kata lain mereka mempunyai kepentingan untuk menopang rezim-rezim Arab, semacam Saudi Arabia, dan berusaha menjaga stabilitas Timur Tengah. Untuk itu Washington memberikan tekanan-tekanan pada Tel Aviv untuk mencapai kompromi dengan Palestina dan melakukan pendekatan-pendekatan dengan lain-lain tetangganya, yaitu negara-negara Arab. Lalu Arafat dengan sigapnya menerima tawaran yang ditawarkan oleh Israel. Setelah gagal selama berpuluh untuk mengedepankan selangkah saja kepentingan Palestina, para pemimpin PLO begitu tamaknya menikmati “buah keberhasilan” yang telah dimenangkan oleh rakyat Palestina. Apa yang mereka terima sebenarnya sebagiana terbesar merupakan penghianatan atas perjuangan nasional warga Palestina.“Washington berharap dapat mengakkan stabilitas di daerah tersebut dengan memaksa (pihak-pihak di sana) untuk berkompromi. Bagaimanapun, persoalan nasional terkenal sebagai sesuatu yang mudah sekali mengalami perubahan dan kompleks, serta situasi-situasi eksplosif yang diciptakan oleh imperialisme di masa lalu tidak selalu dapat dengan mudah diuraikan oleh imperialisme itu sendiri ketika ia berubah pikiran. Sebagaimana di Irlandia Utara imperialisme Inggris menciptakan monster Frankestein yang kini sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya, demikianlah imperialisme Amerika sekarang mendapati bahwa, setelah mendirikan sebuh negara boneka di Israel, kini boneka itu tidak selalu bisa disuruh menari saat dalang menggerakkannya. Kelas yang berkuasa di Israel memiliki kepentingan-kepentingannya sendiri yang mungkin saja cocok, atau pun tidak cocok, dengan kepentingan Amerika. Jadi, apa yang disebut sebagai Perjanjian Damai di Timur Tengah dewasa ini berada dalam kesulitan yang serius. Tidak satupun dari problem-problem fundamental telah berhasil dipecahkan. “Seperti yang telah diprediksikan oleh kaum Marxis, perjanjian yang ditandatangani Arafat dengan pihak Israel merupakan perangkap bagi rakyat Palestina. Perjanjian tersebut bukanlah pengakuan atas hak menentukan nasib sendiri (bagi bangsa Palestina), namun sekedar karikatur menyedihkan dan sebuah tipuan. Entitas Palestina baru sesungguhnya adalah sebuah aborsi yang dipaksakan adanya, dengan bagian Jalur Gaza terpisah dari Tepi Barat dan Yerussalem masih dibawah kontrol kuat Israel. Suatu bentuk kondisi yang memalukan. Untuk lebih membuat keadaan menjadi lebih buruk, sebagian besar warga Yahudi yang bermukim di Palestina melakukan aksi-aksi provokasi terhadap warga Palestina. Efeknya, apa yang disebut sebagai daerah Otoritas Palestina hanyalah alat dari Israel yang, pada prakteknya, terus mendominasi. Kondisi masyarakat Arab di Jalur Gaza dan Tepi Barat kemungkinan besar akan lebih buruk dari masa-masa sebelumnya, dengan pengangguran massal, terutama di kalangan pemudanya. Israel dapat membelokkan keadaan sembarang waktu dengan cara melakukan penutupan perbatasan dengan daerah Tepi Barat dan Jalur Gaza, hingga hal itu menceraiberaikan warga Palestina yang bekerja di Israel dari pekerjaan dan sumber nafkah hidupnya. Untuk membuat keadaan menjadi lebih buruk, Arafat dan konco-konconya telah menjadikan diri mereka sebagai elit birokratis yang istimewa, yang bertindak sebagai anjing penjaga bagi Tel Aviv, sambil terus mengisi penuh-penuh kocek mereka dengan pengorbanan orang-orang awam di Palestina.“Perjanjian perdamaian yang dilakukan dengan segenap riuh rendah pesta di bawah tekanan Washington sedang mengalami kehancuran. Dengan jatuhnya (pemerintahan) Netanyahu dan terpilihnya pemerintahan Partai Buruh, Washington berharap akhirnya ia akan meraih sukses dalam mengajukan keinginannya. Namun adanya tekanan-tekanan dari penduduk Yahudi di Palestina, seperti yang telah kami prediksikan, menggiring terjadinya krisis silih berganti secara terus menerus. Pemerintahan Tel Aviv, setelah gagal untuk mengadakan langkah maju dengan warga Palestina, mencoba melakukan negosiasi dengan Syiria atas Dataran Tinggi Golan. Namun begitu persoalaan pengembalian Dataran Golan (kepada Libanon) di kemukakan, di Israel terjadi berbagai demonstrasi massal menentang rencana tersebut. Perundingan dengan Syiria akhirnya berantakan, menggiring pecahnya permusuhan baru di Libanon Selatan. “Hal yang harus dipertimbangkan secara serius, ketidakpuasan massa yang makin meningkat di Tepi Barat dan Jalur menimbulkan provokasi-provokasi timbulnya Intifada yang baru. Intifada tersebut niscaya terjadi dalam situasi macam begini.” (Alan Woods dan Ted Grant, Marxism and The National Question , 25 Februari 2000)Prediksi-prediksi di atas kini menyatakan dirinya di depan mata kita. Sembarang ilusi macam apapun yang mungkin dulunya dimiliki oleh warga Palestina terhadap “Perjanjian Perdamaian”, kini sudah hancur. Kesabaran mereka telah habis. Massa mulai memahami bahwa mereka tidak dapat lagi mempercayai para peminpin PLO dan PNA. Pembentukan apa yang disebut daerah Otoritas Palestina pada tataran realitas hanya merupakan aborsi terhadap “kekuasaan sendiri” di Gaza dan Tepi Barat. “Entitas” ini tidak pernah dapat bertahan hidup dan sama sekali tidak dapat memenuhi aspirasi syah milik rakyat Palestina atas tanah air mereka sendiri, impian atas negara mereka yang bebas dari pendudukan kekuatan asing. Rakyat Palestina, terutama sekali para buruh dan para pemudanya, telah memahami bahwa kemerdekaan mereka hanya dapat diraih melalui usaha dan pengorbanan mereka sendiri. Mereka telah menunjukkan bahwa mereka siap untuk berlaga dan, bila perlu, mereka rela mati dalam memperjuangkan tercapainya hak mereka. Hanya itulah pilihan yang ada di hadapan mereka. Seluruh proses predamaian sebagain besar dikarenakan adanya pemberontakan rakyat Palestina, yaitu Intifada, yang terjadi di daerah pendudukan Israel di tahun 1980-an. Intifada mempunyai efek mendalam di masyarakat Israel sendiri. Intifada itu sama sekali bukanlah rangkaian kampanye menentang pemboman ngawur, melainkan seluruh rakyat bangkit, menunjukkan keberanian dan kegigihan yang paling mengagumkan di depan tentara Israel yang perkasa. Bagaimanapun, Arafat dan pimpinan PLO lainnya tidak mampu memimpin perjuangan ini. Kaum borjuis kecil yang nasionalis ini memang secara organik tidak akan mampu memahami bahwa satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah rakyat Palestina adalah dengan menggunakan cara-cara yang revolusioner -melalui transformasi sosialis atas Israel/Palestina sebagai bagian dari perjuangan menyeluruh kaum buruh di seluruh kawasan Timur Tengah untuk menggulingkan para penindas mereka (tidak cuma orang Israel, namun juga orang-orang Arab kapitalis) dan merebut kekeuasaan ke dalam tangan mereka sendiri. Inilah satu-satunya jalan untuk menghancurkan cengkraman Imperialisme atas Timur Tengah dan membuka jalan bagi terjadinya transformasi sosialis dari masyarakat. Sekali perspektif sosialis revolusioner diabaikan, hasil yang mungkin terjadi dari sebuah perjuangan hanyalah penghianatan dan penyerahan diri. Sepanjang terjadinya “proses perdamaian”, peranan Yasser Arafat dan para pemimpin PLO lainnya hanyalah menyerah kepada imperialisme Israel di setiap tahap yang ada. Tujuan dari Tel Aviv adalah mendirikan sebuah “statelet” boneka {statelet diterjemahkan secara harfiah sebagai negara bayi, bukan calon negara karena statelet tidak lantas akan menjadi negara dalam pengertian sebenarnya; penterjemah), sebuah statelet yang sepenuhnya bergantung pada Israel dan dikontrol oleh perangkat pemerintahan “tak bergigi” yang akan melakukan patroi polisi atas Jalur Gaza dan Tepi Barat demi kepentingan Israel. Dengan demikian Arafat dan para pemimpn PLO lainnya mengkhianati hasrat rakyat Palestina dan menggiring mereka ke dalam lorong hitam yang ada sekarang ini.“PERJANJIAN DAMAI”Perjanjian yang disetujui oleh mereka yang menamakan diri “kaum realis” ini penuh dengan lubang menganga sejak dari awalnya. Terlepas dari fakta bahwa daerah Gaza dan Tepi Barat terpisahkan (oleh adanya perjanjian itu) dan teritorial yang dijadikan daerah “merdeka” jelas-jelas tidak mungkin bertahan, permasalahan mengenai kaum Yahudi yang tinggal di Palestina serta tentu saja terutama permasalahan mengenai Yerussalem tetaplah tidak terselesaikan. Daerah otoritas itu sama sekali bukan tanah air bagi rakyat Palestina, melainkan cuma serangkaian “daerah-daerah bagian” yang saling terpisah dan sama sekali bergantung kepada Israel. Tidak satupun dari lima entitas yang dikontrol oleh PNA terhubung scr territorial dengan satu entitas lainnya. Mereka bergantung kepada Israel atas listrik, air, komunikasi, dan komoditas-komoditas lainnya. Di samping itu, tentara Israel selalu bersiaga dan dapat saja melakukan intervensi sewaktu-waktu, seperti yang terjadi sekarang ini. Jadi, “kemerdekaan” yang diperantarai oleh Arafat tidak lebih dari lawakan vulgar dan sepenuhnya tipu daya.Sebagaimana dijelaskan oleh Guardian (12.10.00): “Antara pemimpin partai buruh dan Likud (sejak 1993) mempunyai kesamaan visi dan misi yakni mendesain kesepakatan Oslo untuk memisahkan daerah Palestina kedalam kantong-kantong yang berjauhan dan dikelilingi oleh garis perbatasan yang selalu di kontrol Israel, lewat pemberian tanda-tanda baca pada daerah-daerah perkampungan dan jalan-jalan perkampungan; pada dasarnya Israel berusaha menunjukan dominasinya sekaligus menghina keutuhan teritorial Palestina, pengambilalihan penguasaan rumah merupakan proses yang tidak bisa ditawar lagi dari awal hingga akhir sepanjang pemerintahan Rabin, Peres, Nentanyahu, dan Barak melalui program pengembangan dan pelipatgandaan pemukiman Yahudi di daerah Palestina (200.000 orang Yahudi Israel ditambahkan ke Yerussalem dan lebih 200.000 orang di Gaza dan Tepi barat), pendudukan militer terus berlangsung dan setiap langkah kecil menuju kedaulatan PalestinaÖ dihalangi, dihambat bahkan dibatalkan oleh Israel.Otoritas Palestina (PNA), setepat-tepatnya disebabkan perannya bertindak sebagai polisi terhadap rakyat Palestina, sedari awal sekali Seperti yang dituangkan The Guardian (12.10.00) “Dengan rezimnya yang korup dan represif bagi begitu bebalnya, didukung oleh Mossad Israel dan CIA Amerika, Yasser Arafat terus saja bersandar pada para mediator AS, walaupun tim perdamaian AS itu didominasi oleh mereka yang dulunya me-lobby pejabat-pejabat IsraelÖ” Tim ini bertugas mengkonsolidasikan kekuatan Arafat dan para kaki tangannya. PNA dipakai sebagai alat untuk membungkam orang-orang yang tidak sepaham serta untuk menjadi wadah bagi perkembangan borjuasi Palestina. Demikianlah sebuah elit minoritas sejak itu terus tumbuh di atas pengorbanan rakyat Palestina. PNA telah memutuskan untuk melakukan swastanisasi yang, dalam prakteknya, berlaku atas semua hal. Kepentingan-kepentingan para administrator PNA sama sekali bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang hidup di dalam daerah kekuasaan mereka.Kini Arafat kembali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang pedas, seperti yang sering dilakukannya pada tahun 1970-an, ketika ia berpendapat bahwa hal yang paling tepat untuk dilakukan terhadap orang-orang Yahudi (Israel) adalah menceburkan mereka semua ke laut! Arafat kembali mengeluarkan pernyataan pedas begini sebab ia telah kehilangan otoritas yang tak terhingga dari rakyat Palestina. Rakyat Palestina telah sadar bahwa Arafat dan para penggiringnya berjuang hanya untuk kekayaan dan kepentingan mereka sendiri sementara kondisi kehidupan rakyat Palestina terus memburuk tiap harinya. Pada kenyataannya Arafat tidak dapat mengontrol rakyat Palestina. Setelah berpuluh tahun, mulanya dengan menggunakan jalan terorisme individual, lalu dengan berkompromi dengan pemerintah Israel, rakyat Palestina karena pernah lebih dekat ke arah pencapaian tanah air mereka yang sejati serta hak untuk menentukan nasib mereka sendiri. Situasi di dalam negeri Israel sendiri merupakan salah satu faktor yang memperparah tekanan sosial. Krisis ekonomi telah memerlihatkan pengaruhnya di kalangan kelas buruh dan kelas menengah Israel. Di atas basis kapitalisme, tidak ada jalan keluar dari krisis ini. Apa yang dilakukan Sharon dari sayap kanan Likud, yaitu melakukan provokasi terhadap warga Palestina di Yerussalem, sesungguh-sunguhnya adalah untuk mengalihkan perhatian massa dari meningkatnya tekanan-tekanan sosial di dalam negeri Israel sendiri. Tujuan mereka adalah untuk menyatukan kaum Yahudi di Israel dengan membangkitkan semangat anti Arab yang chauvinistic. Namun hal ini hanya akan menimbulkan bencana yang sama bagi Arab dan Yahudi itu sendiri.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: