Israel: Di Bibir Jurang Kehacuran(bagian ke-3)

 REAKSI DI ISRAEL?

Trotsky pertama kali telah mengingatkan bahwa pendirian negara Yahudi di Palestina akan menjadi perangkap keji bagi bangsa Yahudi sendiri. Betapa benarnya prediksi tersebut! Para perintis awal berdirinya Israel memelihara demagogi “sosialis”. Saat itu Partai Buruh mendukung “sosialisme kibbutz”. Namun kini, bahkan sosialisme yang cuma berupa pemainan kata yang manis di bibir pun juga sudah diabaikan. Perbedaan antara Partai Buruh dan Partai Likud kini terus makin kecil. Partai Buruh yang tengah berkuasa telah melakukan swastanisasi yang sama, hantaman-hantaman yang sama terhadap standar kehidupan, seperti yang dilakukan di semua negara kapitalis lainnya. Sebagai tambahannya, juga ada tekanan militerisme yang amat kuat yang diciptakan sebab negara terus-terusan berada dalam keadaan perang atau semi perang dengan seluruh negara tetangga Israel.Antagonisme antara Yahudi dengan Arab tertanam dalam keseluruhan filsafat dan pandangan yang dipejalankan oleh kelas penguasa Israel yang reaksioner. Sejak masa pendiriannya, Israel telah mengandung benih-benih negara Rasis dengan karakter-karakter teokratis. Hukum sipil Israel dibuat berdasarkan pada “Halacha” atau hukum keagamaan Yahudi di abad pertengahan yang kini terancam akan berbelok arah menjadi reaksi fundamentalis. Apa yang di Israel disebut sebagai “Perang Kemerdekaan” sesungguhnya adalah 1 juta etnis Palestina, yang pada saat itu terjadi hal ini menciptakan 4 juta orang pengungsi yang kemudian tidak dapat pulang kembali ke tempat asal mereka sebab ditolak oleh negara baru yang mengingkari hak mereka. Dalam waktu separuh abad sejak pendiriannya, Israel telah menjadi negara yang paling kuat dan makmur di kawasan Timur Tengah. Namun Israel adalah raksasa yang berkaki lempung. Ia bergantung pada kemurahan hati imperialisme Amerika Serikat. Barak menginginkan Arafat mau menerima status quo dengan pertukaran yang tidak berimbang. Argumen yang dikemukakan Tel Aviv, bahwa Barak telah memberikan konsensus besar, namun Arafat menolak menerimanya, sehinggga menyebabkan terjadinya krisis sekarang ini; merupakan argumen yang sepebuhnya tidak benar. “Konsensi-konsesi” seperti yang diajukan oleh Barak pada kenyatannya sama sekali bukan konsensi. Terang saja Arafat tidak bisa menerima konsensus, bahkan bilapun ia menginginkannya. Jika ia menerimanya, sangat mungkin is segera ditumbangkan, atau bisa jadi lebih buruk dari itu. Diatas itu semua, dalam konsensi dari Barak tidak ada kemungkinan untuk bisa menyelesaikan permasalahan Yerussalem.Seorang Marxist Israel mengemukakan adanya persamaan yang kuat antara situasi di Israel dan Afrika Selatan di masa rezim apartheid: “Penduduk Yahudi dengan non Yahudi (khususnya Arab) dipisahkan menurut rezim pemisahan yang amat similar dengan rezim apartheid Afrika Selatan: seorang Yahudi tidak mungkin mengawini seorang yang non-Yahudi, Polisi dan tentara haruslah Yahudi murni, dst. Sesungguhnya, negara senantiasa berada dalam kondisi perang yang tidak dimaklumatkan terhadap para penduduk etnis Arab: contohnya, ratusan rumah milik warga Palestina dihancurkan secara sistematis setiap tahunnya untuk memaksa mereka pergi dari negeri ini. “Partai-partai orang Arab” (yaitu partai yang pemilihnya kebanyakan warga Arab, termasuk partai komunis) tidak pernah diperkenankan untuk ambil bagian dalam pemerintahan koalisi. Motto dari Yahudi “pendukung perdamaian” adalah “hidup berdampingan secara damai” –integrasi (perkawinan campuran, tinggal dalam gedung yang sama, dst) adalah hal yang sama sekali tabu.”Situasi yang ada di Israel sekarang telah menggiring seluruh kekuatan yang dulunya saling berimbang menjadi condong ke kanan. Formasi Pembentukan “Pemerintahan Kesatuan Nasional” termasuk Sharon si reaksioner pengangkat pedang permusuhan, menandakan kemenangan bagi “Partai Perang” di Tel Aviv –yaitu bagian dari lingkaran penguasa Israel yang percaya (bukan tanpa alasan) bahwa persetujuan perjanjian yang ada sekarang telah tidak berhasil memecahkan satu persoalanpun, dan perang merupakan hal yang tidak bisa dielakkan, dan makin cepat hal itu maka akan lebih baik jadinya. Suasana histeria anti Arab yang berlangsung sebelum perang ditiupkan dengan titik mula adanya kematian dua orang tentara Israel. Dengan kekurangajaran yang diperhitungkan masak-masak, Tel Aviv menerangkan bahwa serangan udaranya atas kota-kota di Palestina yang lalu adalah merupakan “sebuah jawaban simbolis”. Hal ini ditujukan untuk membuat orang berpikir keras menerka bagaimana bentuk serangan yang sesungguhnya! Klik penguasa Israel dengan sengaja membangkitkan opini publik. Untuk tujuan apa?BAHAYA PERANGDalam situasi yang sekarang ini adalah logis adanya kemungkinan munculnya perang total. Perang ini akan melibatkan pembunuhan besar-besaran dan penghancuran yang mengerikan. Perang itu tidaklah akan menguntungkan baik massa Palesina ataupun juga para buruh Israel. Tentu saja, apa yang paling tidak diharapkan oleh imperialisme adalah terjadinya perang di Timur Tengah. Perang akan juga mendatangkan konsekuensi yang mendatangkan bencana bagi dunia Barat. Perang akan menimbulkan dampak pada harga minyak yang kini pun sudah tinggi, kenaikan lebih lanjut bisa menjadi elemen final yang akan mengakhiri putaran naik perekonomian dewasa ini dan mengganti arahnya menuju resesi tingkat dunia. Jadi, apapun yang sedang terjadi di Timur Tengah mempunyai akibat di semua penjuru dunia. Hal itu menjelaskan mengapa AS, Inggris, Rusia, Uni Eropa, semuanya bergegas bicara kepada Barak dan Arafat. Mereka melakukan apa saja yang mereka bisa lakukan demi mencapai beberapa macam kompromi dan menjauhkan situasi dari jurang peperangan. Namun jika perang terjadi juga akhirnya, Amerika akan tidak terelakkan lagi mendukung Israel, yang hingga sekarang tetap merupakan sekutu utamanya di Timur Tengah. Jika Israel terancam kalah (ini sebetulnya hal yang mustahil), imperialisme AS tidak akan ragu untuk turun sepenuhnya di pihak Israel, menyediakan persenjataan diperlukan Israel untuk memungkinkannya menang. Dengan demikian rezim-rezim Arab akan dihadapkan dengan bencana militer yang dijamin pasti terjadi — sebagaimana hal itu terjadi dalam setiap kali mereka berperang melawan Israel. Mesir dan Syria sadar sekali akan hal ini, dan dengan demikian tidak menunjukkan kecenderungan besar untuk terjun ke dalam pertempuran. Namun itu tidak berarti bahwa perang di Timur Tengah mustahil terjadi. Jauh dari itu.Rezim-rezim Arab berada di bawah tekanan besar dari massa Arab untuk bangkit melawan Israel. Namun mereka takut terhadap khawatir perang seperti halnya terhadap wabah. Pada masa lalu kita telah melihat rezim di Syria, Mesir dan negara-negara lain runtuh sebagai hasil dari kekalahan di tangan Israel. Israel memiliki tentara yang besar, kuat dan efisien. Mereka mungkin berhasil secara temporer dalam mencapai beberapa bentuk kopromi. Tapi hal itu tidak dijamin (akan terjadi). Situasi bisa saja terpuntir lepas dari kontrol. Helikopter Israel telah membombardir kota Ramallah dan kota-kota Palestina yang lain. Efek dari hal itu akan menguatkan tekad warga Palestina untuk melawan. Keseluruhan “proses perdamaian” begitu telah begitu sungguh-sungguh dilakoni bersama selama tujuh tahun lebih, hancur lebur dalam sekejapan mata.Pembentukan pemerintah kesatuan nasional di Tel Aviv, termasuk Ariel Sharon –orang yang sudah dengan sengaja memprovokasikan terjadinya konflik sekarang– hanya bisa berarti satu hal untuk bangsa Palestina: akhir definitif dari proses kedamaian dan ancaman perang habis-habisan. Beberapa hari nanti akan terlihat ke mana perimbangan ini berlangsung terus. kekuaatan-kekuatan militer AS dan angkatan lautnya di kawasan ini telah ditempatkan pada kesiagaan khusus, setelah serangan bom pada salah satu kapalnya lepas pantai Yaman. ini merupakan perkembangan yang tidak dapat terelakkan, seperti halnya beberapa orang Palestina dan para pendukungnya di dunia Arab akan menarik kesimpulan bahwa mereka mesti mengangkat senjata. Jika hal ini menyebabkan gelombang pemboman teroris terhadap target-target sipil di Israel, ini akan menyediakan alasan yang kini tengah dicari-cari oleh para politisi lapar Israel untuk meluncurkan serangan dan kebiadaban baru di Palestina. Akan sulit bagi rezim-rezim Arab untuk tetap berpangku tangan. Mereka jelas takut digulingkan. Hal ini bisa dengan mudah menciptakan kecenderungan yang tidak bisa dikontrol untuk turun ke dalam perang.sekarangpun, konflik tengah menebar di Timur Tengah. Dengan menggunakan alasan penculikan sekumpulan tentara Israel, pesawat terbang Israel telah membombardir Lebanon selatan. Kini mereka membombardir kantor-kantor polisi PNA. Tujuannya sama: untuk menyebarkan terror dan memaksakan kehendak imperialisme Israel melalui kekerasan masif. Sayang sekali, bukannya menjinakkan massa Arab, penggunaan kekerasan yang semakin meningkat oleh pihak militer Israel ini malah menyatukan seluruh bangsa Arab, dari Maroko hingga Irak, untuk melawan imperalisme, khususnya imperialisme AS dan anteknya, Israel. Demonstrasi 300.000 orang terjadi di Maroko, demonstrasi lain yang didukung satu juta orang terjadi di Tunisia. Perkembangan sama telah disaksikan di Mesir, Yordania, bahkan di Arab Saudi dan Kuwait.Simpati bangsa Arab terhadap bangsa Palestina dilandasi pada kenyataan bahwa mereka sama berbagi budaya, bahasa dan sastra, juga kondisi sosial dan ekonomi sama. Di Mesir pengangguran melampui angka 10 persen. Di Libanon angka itu sekitar 20 persen. Di Yordania sekitar 25 persen. Perasaan tidak senang yang berkembang di kalangan massa ini bisa dengan mudah ditumpahkan ke dalam demonstrasi jalanan di mana targetnya akan cuma terpatas pada kedutaan AS dan Inggris. Aspirasi massa Arab bukanlah aspirasi dari klik yang menjalankan pemerintahan negara mereka. Berkali-kali bangsa Palestina telah dikhianati oleh mereka yang menyebut diri “saudara” Arab. Dalam realita, gerakan massa di negeri-negeri ini terlihat sebagai ancaman oleh rezim-rezim lalim ini. Untuk mengalihkan kemarahan massa dari diri mereka, rezim-rezim Arab ini mungkin memutuskan bahwa konflik militer dengan Israel akan tidak begitu buruk. Tahapan yang begini akan mebentuk instabilitas sosial dan politik yang luar biasa besar di seluruh kawasan Timur Tengah. Tidak satu rezim pun aman dari bahaya penumbangan –tidak Mesir, tidak juga bahkan Arab Saudi.Jika saja ada partai dan kepemimpinan revolusioner yang sejati, kondisi yang ada sekarang ini akan bisa menjadi awal revolusi sosialis di seluruh Timur Tengah. Metode Intifada adalah metode yang sama dengan metode perjuangan kelas. Pemogokan umum merupakan salah satu dari ekspresinya. oleh karena itu, para buruh Palestina dan pemuda adalah elemen kunci di dalam persamaan ini. Para buruh Palestina harus tidak menaruh kepercayaan pada kepemimpinan Arafat. Massa Palestina berjuang selama bertahun-tahun bukan untuk menciptakan borjuasi Palestina. Keuntungan apa yang diatawarkan mereka itu kepada kelas buruh dan kaum miskin? Tidak ada! Supaya bisa meraih kebebasannya, para buruh Palestina mesti bercerai habis dengan para pemimpin borjuis ini. Mereka mesti membangun komite-komite mereka sendiri di tempat kerja mereka, komite buruh, komite petani, mahasiswa, pengangguran, dan saling berkait mencipta badan perwakilan nasional. Badan ini akan menjadi ekspresi murni kehendak buruh dan pemuda Palestina.Namun tidak akan cukup para buruh Palestina mencoba mengambil kekuasaan di dalam wilayahnya. Ekonomi wilayah ini tidak bisa terlepaskan lagi dengan ekonomi Israel. Kebanyakan dari kelas buruh Palestina sebenarnya dipekerjakan di dalam industri Israel. Dengan demikian mereka harus masukkan ke dalam program mereka seruan panggilan untuk bersatu dengan para buruh Israel melawan bossnya. Tanpa kesatuan kelas buruh, massa akan menghadapi jalan buntu. Yang terbentang di depan mata akan berupa perang saudara, buruh membunuh sesama buruh. Sepanjang jalan itu hanya terdampar bencana untuk para buruh –buruh Yahudi atau Arab sama saja. Percobaan untuk memecahkan masalah masyarakat Palestina dalam basis kapitalis dan nasionalis telah hanya mengarah pada kebuntuan berdarah saja. Hal ini perlu untuk mogok di jalan baru: jalan revolusi sosialis. Para buruh dan para pemuda Palestina bisa memberikan point referensi untuk semua buruh dunia Arab. Seruan perjuangan harus dikirimkan kepada seluruh buruh Timur Tengah agar mengorganisir diri mereka dengan tujuan menggulingkan berbagai macam borjuis dan rezim lalim dalam wilayah ini. Hanya dengan menggusur boneka-boneka imperialisme ini, serta pengambilalihan kekayaan kaum kapitalis, maka sumber daya dapat dibuat jadi tersedia bagi pemecahan segala problem sosial d ekonomi. Para buruh Irael mesti juga bangun untuk menyambut tugas melakukan transformasi masyarakat. Israel adalah negara kapitalis maju dengan proletariat sangat maju. Jika para buruh Israel bergerak secara meyakinkan dan melawan kelas penguasanya hal ini akan menghancurkan rintangan nasional dan membuka peluang terjadinya pertempuran internasional memperjuangkan sosialisme di dalam wilayah ini. Sekarang ini gelombang propaganda kaum chauvinis yang gemar bertarung itu memang memiliki efek. Namun tidak akan begini selamanya. Pengalaman akan menunjukkan bahwa kebijakan reaksi dan militarisme jangka panjang hanya menebar mimpi buruk kematian dan kehancuran untuk semua orang – termasuk Israel. Sekarang satu perang, besok perang yang lain, kemudian sepuluh perang lagi, hingga sampai mana? Alternatif yang ada adalah perjuangan bersama kelas buruh Yahudi dan Arab demi kemerdekaan mereka, atau merka hancur satu sama lain.Arab Israel adalah 18 persen dari populasi Israel. Meskipun mereka memiliki standar hidup yang lebih tinggi daripada saudara saudari mereka yang hidup dalam wilayah pendudukan, mereka benar-benar menderita sebab adanya diskriminasi sistematis di dalam pekerjaan, sekolah, perumahan dan pelayanan sosial. Hingga tahun lalu mereka bahkan dihalangi dari membeli tanah dan bahkan dari membangun perumahan di kebanyakan wilayah Israel. Mereka tinggal di dalam pemukiman kumuh yang padat dan kotor. Banyak tanah tradisional mereka dirampas. Dan mereka terpaksa melanjutan hidup di pemukiman di lingkungan yang terpisah. Hanya ada dua atau tiga sekolah campuran eksperimental. Selama berlangsungnya Intifada di wilayah pendudukan pada tahun 1980an, bangsa Palestina yang tinggal di Israel sebagai warga Israel tidak mengambil bagian dalam protes. Namun kini mereka berpartisipasi secara masif, di Galilee dan bahkan dalam wilayah campuran yahudi-Arab di Tel Aviv dan Haifa. Ini menjadi kekejaman etnis terburuk di dalam wilayah kekuasaan Israel sejak tahun 1948. Sayap kanan Israel telah merespon dengan aksi penjagalan yang brutal. Surat dari Tel Aviv mengungkapkan sorotan gelombang kegilaan chauvinis dan prorgam yang telah dengan sengaja digeerakkan oleh pemerintah dan pers:“Penggalangan opini terbaru yang dilakukan sebuah koran harian telah menunjukkan bahwa 60 persen dari penduduk Yahudi mendukung ‘transfer’ (pembersihan etnis) terhadap orang-orang Palestina. Selama hari-hari terakhir, gerombolan-gerombolan orang Yahudi telah melakukan pembersihan di perkampungan-perkampungan Arab dan di dalam kota, sebagai akibatnya beberapa “warga” Israel Arab terbunuh dengan dukungan kepolisian dan tentara secara diam-diam. Tidak satupun dari berbagai organissi kelas buruh Yahudi, baik yang bersifat politis maupun serikat buruh yang lebih menitikberatkan ekonomis, mengutuk pembunuhan besar-besaran ini.”Jika para buruh Israel tidak bangkit melawan para tuannya dalam sebuah perjuangan demi menegakkan hak-hak mereka sendiri sebagai kelas buruh, inisiatif gerakan massa akan jatuh ke tangan elemen-elemen reaksioner. Para pemimpin serikat-serikat buruh ini tidak membuat satu kecamanpun atas apa yang sedang pemerintah Israel lakukan terhadap bangsa Palestina. Kebungkaman yang memalukan ini mencap mereka sebagai kolaborator reaksi. Karl Marx menjelaskan pada waktu yang silam, kelas buruh yang tidak menentang terjadinya penindasan terhadap orang lain tidak akan pernah mencapai kebebasannya sendiri. Selama gerakan buruh Israel tetap pasif dalam menghadapi apa yang sedang terjadi di Palestina, mereka tidak akan pernah mampu mempertahankan kepentingannya.PERJUANGKAN FEDERASI SOSIALIS!Aspirasi nasional rakyat Palestina secara murni terungkap dengan sendirinya dalam perjuangan mereka untuk meraih teritorial dan negara mereka bagi sendiri. Apa yang disebut sebagai Otoritas Palestina yang ada sekarang ini dalam pengertian apapun tidak memenuhi aspirasi ini. Otoritas Palestina terbukti hanyalah sebuah perangkap kejam bagi rakyat Palestina. Terungkapnya kebenaran ini di tengah massa mengakibatkan terbakarnya perasaan mereka atas ketidakadilan dan penghianatan. Kemarahan massa ditujukan tidak hanya terhadap Israel namun juga terhadap Arafat dan para pemimpin PLO lainnya.Naluri massa mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk melangkah maju adalah tindakan-tindakan revolusioner yang dilakukan oleh mereka sendiri. Hal ini amat benar, namun demikian belumlah cukup untuk menjamin kemenangan. Jajaran kekuatan yang menghantam bangsa Palestina amatlah kuat. Satu-satunya cara untuk mematahkan cengkraman imperialisme adalah dengan menyebarluaskan revolusi keseluruh negara tetangga, diawali di Yordania, dimana warga Palestina merupakan warga mayoritas. Itu a menciptakan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi pemroklamasian negara revolusioner Palestina yang benar-benar demokratik. Hal ini hanya bisa dicapai bila kekuasaan beralih ke tangah kelas buruh dan tani. Di atas basis inilah akan mungkin untuk mengumandangkan seruan revolusiner kepada massa kelas buruh di Israel.Pada analisis di atas, terungkap bahwa satu-satunya jaminan kesuksesan adalah dengan jalan menyebarluaskan revolusi ke dalam negeri Israel sendiri. Hanya kelas buruh Israel-ah yang mampu menggulingkan keberadaan negara Zionist yang dahsyat itu. Melalui kebijaksanaan revolusioner yang tepat, daya dorongan untuk terjadinya hal ini dapat berasal dari luar Israel, namun peperangan final harus dilakoni dari dalam. Pada masa sekarang, harapan ini dipandang masih terlalu jauh. Namun begitu jugalah prospek terjadinya revolusi dalam masa pemerintahan rezim tsaris sebelum 1917. Dalam sembarang kasus, perspektif ini bukan merupakan jalan yang bisa di kesampingkan, namun justru sebaliknya perspektif ini mengandung persyaratan, bahwa gerakan revolusioner massa rakyat Palestina harus diteruskan, diperluas, dan diperdalam. Biarkan saja orang-orang yang sinis dan yang skeptis memprotes bahwa suatu kebijakan sosialis adalah hal yang “utopis!”. Namun biarkan pula mereka coba menunjukan pada kita apa kebijakan lain yang bersifat lebih “praktis”! Kita tahu benar kebijakan macam apa yang mereka sebut “praktis” ini! Mereka tokh sudah berusaha keras sepanjang setengah abad dan selalu mereka pula yang melenceng menjadi kaum utopis yang paling menyedihkan.Ide pendirian dua negara di atas basis kapitalis adalah setepat-tepatnya suatu UTOPIA REAKSIONER. Mereka yang mengajukan ide tersebut tidak berpikir panjang. Di mana perbatasan antara kedua negara itu akan diletakkan? Siapa yang akan mengontrol Yerussalem ? Hak-hak apa yang akan dimiliki oleh kaum minoritas di masing-masing kedua negara tersebut? “Solusi” macam begitu sama sekali tidak dapat menyelesaikan persoalan apapun. Hanya akan menjadi sumber perang dan konflik yang baru. Dalam sembarang kasus, solusi yang dikatakan “realistis” ini samasekali tidak realistis. Imperialis Israel sudah terang-terangan menunjukkan bahwa mereka tidak akan mentolerir pendirian negara Palestina sejati di ambang pintu mereka. Jadi, solusi dari permasalahan ini hanya dapat terjadi melalui penggulingan kekuasaan di negara Israel; yaitu, memalui penggunaan kebijakan revolusioner yang dapat mempersatukan kelas buruh Yahudi dan Arab untuk melakukan perlawanan terhadap musuh bersama mereka.Partai “Komunis” Israel selama masa pemilihan yang lalu menghimbau untuk memilih Barak. Lebih jauh, mereka mendukung pembagian (dua negara untuk dua rakyat). Kaum lain yang lain mengaku dirinya Marxis menghimbau adanya “negara Sosialis Israel yang bersisian dengan negara Sosialis Palestina.” Ini hanya merupakan sebuah pernyataan lain yang mendukung pembagian tersebut, dan bahkan lebih tidak mengesankan dari pada pendirian Partai Komunis Israel. Ketika situasi sudah siap secara memadai bagi buruh Yahudi dan Arab untuk merebut kekuasaan, maka situasi itu jelas sudah cukup memadai bagi pembentukan sebuah federasi Sosialis.Seluruh kehidupan ekonomi di kawasankedua negara itu begitu terikat satu sama lain hingga sebuah federasi merupakan satu-satunya solusi terakhir. Begitu buruh Arab dan Yahudi telah mengambil alih kekuasaan di tangan mereka, seluruh persoalan mengenai perselisihan yang ada dapat didiskusikan dan diselesaikan dengan ramah. Hanya solusi ini yang bisa mengatasi seluruh situasi yang menakutkan. Pembentukan sebuah republik sosialis sekular yang demokratis di Israel hanyalah satu langkah awal menuju pembentukan Federasi di dalam keseluruhan daerah yang menurut sejarah adalah Palestina dan untuk pengakuan atas hak pulang para pengungsi Palestina. Pada putaran berikutnya, hal ini akan menjadi satu langkah pertama untuk mencapai Federasi Sosialis bagi seluruh rakyat di Timur Tengah. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: