Antara Raj’ah dan Reinkarnasi

Keyakinan akan raj’ah, yang dianut oleh para pengikut mazhab Syiah Imamiah, bukanlah termasuk salah satu dari ushul dan asas agama Islam. Melainkan keyakinan ini,  merupakan suatu hal yang sudah menjadi kesepakatan Ulama mereka yang bersumber dari beberapa ayat al-Quran dan hadis-hadis para Imam Maksum mereka yang telah mencapai derajat mutawatir .

Sebagaimana kaum muslimin lainnya menyakini akan turunnya Dajjal dan Nabi Isa sebelum hari Kiamat, yang mana dengan mengingkari hal yang sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin ini, tidak menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam. Begitu pula keyakinan akan raj’ah menurut Syiah Imamiah. yang mana dengan mengingkarinya tidak menyebabkan seseorang keluar dari Mazhab Syiah ataupun Islam.  Namun demikian, sering kali permasalahan raj’ah ini diangkat dan dijadikan senjata untuk mengkafirkan Mazhab Syiah Imamiah. Hal ini di timbulkan kesalahfahaman mereka akan arti raj’ah. Yang mana mereka mengartikan Raj’ah dengan Reinkarnasi. Dan yang lebih disayangkan, banyak dari kaum ulama pun yang tidak luput dari kesalahfahaman ini. Oleh karna  ini, tidak sedikit dari mereka yang mengkafirkan penganut Mazhab Syiah Imamiah dengan dalih ini .

Sungguh ini suatu hal yang menggelikan dan memalukan, karena kesalahfahaman ini terjadi ditengah tumpukan kitab Syiah yang sudah tersebar luas yang dengan mudah dapat diperoleh oleh siapa saja yang ingin membacanya. Apalagi di era informasi seperti ini, banyak sekali site-site yang memuat dan menerangkan akan aqidah Syiah Imamiah yang sebenarnya .

Dalam kesempatan ini, untuk mengurangi kesalahfahaman yang terjadi, kami akan berusaha untuk menerangkan perbedaan antara reinkarnasi sebagaimana yang diyakini kaum Hindu dan raj’ah yang diyakini Syiah Imamiah. Bersamaan dengan dalil-dalil yang menunjukkan kemungkinan akan terjadinya raj’ah di akhir zaman .

Reinkarnasi – sebagaimana yang di yakini oleh kaum Hindu – adalah kembalinya ruh seseorang yang telah mati dari jasad ke jasad lainnya, baik itu jasad manusia, hewan atau pun tumbuhan. Hal ini terjadi secara terus-menerus tanpa henti. Yang dengan ini, ruh tersebut akan mendapatkan balasan yang setimpal dari apa yang telah Ia perbuat di kehidupannya yang lalu . Dan ini berlaku terhadap seluruh manusia yang hidup di dunia ini. Mereka yang beramal baik, ruh nya akan berpindah kejasad yang baik dan terhormat. Dan mereka yang beramal buruk, ruh nya akan berpindah jasad yang buruk dan terhina.

Keyakinan seperti ini sangatlah jelas kebatilannya. Karena dengan menyakini Reinkarnasi, berarti menyakini bahwa ganjaran amalan seseorang di dunia, akan di terima di dunia ini pula. Jelas  hal ini sangat bertentangan dengan keyakinan akan hari akhir dan hari kebangkitan, yang bukan hanya  merupakan salah satu dari ushul dan asas agama Islam. Akan tetapi juga merupakan asas bagi agama-agama Samawi lainnya. Seorang dengan meyakini reinkarnasi, berarti ia bukan saja telah keluar dari agama Islam, tapi juga sudah keluar dari agama Samawi .

Kedua, Keyakinan seperti ini telah meruntuhkan fondasi besar dari nilai ajaran agama Islam. Karena keyakinan akan reinkarnasi, sering digunakan digunakan sebagai senjata bagi para peminpin yang zalim untuk berbuat semena-mena terhadap rakyatnya. Dengan dalih ini, berbagai musibah, bencana, penindasan dan dan kemiskinan di dunia adalah sebagai siksaan atas kelakuan yang mereka perbuat di masa lalu mereka.  Sedangkan salah satu tujuan terpenting Allah swt mengutus Rasul-Rasul Nya adalah untuk menegakkan keadilan dan membebaskan manusia dari penindasan di muka bumi ini . Sebagaimana yang Ia firmankan ” Sesunggungnya Kami telah mengutus para Utusan Kami dengan tanda bukti yang terang, dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca, agar manusia dapat berlaku adil “. ( Q.S.57:25)

Dengan arti diatas, jelas kita dapat menghukumi kafir dan sesat bagi siapa saja yang menyakini reinkarnasi. Akan tetapi, hal ini kita tidak bisa tudingkan kepada para penganut Mazhab Syiah Imamiah. Dengan dalih bahwa mereka menyakini raj’ah. Karena Raj’ah menurut Syiah Imamiah memiliki arti yang sangat berbeda dengan reinkarnasi .

Raj’ah menurut Syiah Imamiah adalah dibangkitkannyanya kembali sekelompok orang-orang yang benar-benar murni imannya dan juga sekelompok orang-orang yang benar-benar murni kekafiran dan kezalimannya. Dengan tujuan, agar orang-orang yang Mukmin dan terzalimi tersebut dapat membalas kepada orang-orang yang telah menzaliminya di dunia ini,  sebelum Allah membalasnya di akherat kelak. Dan hal ini terjadi di akhir zaman, di masa munculnya Imam Mahdi as.

Dari pengertian ini, kita dapat menilai. Bahwa raj’ah memiliki arti yang sangat berbeda dengan reinkarnasi. Karena di dalam raj’ah yang akan dibangkitkan hanya sebagian manusia saja, dan itu pun hanya sekali dan tidak terus-menerus. Kalau keyakinan terhadap reinkarnasi sangat bertentangan dengan keyakinan akan hari kebangkitan, akan tetapi keyakinan akan Raj’ah sama sekali tidak bertentangan. Karena di dalam raj’ah, sekelompok manusia yang telah dibangkitkan akan dimatikan kembali setelah tujuan dibangkitkannya mereka telah tercapai. Dan di akherat kelak mereka akan dibangkitkan kembali untuk dihisab.

Kalau menyakini reinkarnasi berarti membiarkan kezaliman yang terjadi. akan tetapi dengan menyakini raj’ah seseorang akan bangkit memerangi kezaliman dikarenakan Allah SWT sangat benci dan murka terhadap orang-orang yang zalim, sehingga membangkitkan mereka walaupun di dunia ini untuk menerima pembalasannya dari mereka yang dizalimi .

Perbedaan lainnya, kalau dalam reinkarnasi ruh seseorang pindah dari jasad  ke jasad lainnya. Akan tetapi dalam Raj’ah, ruh seseorang dengan jasadnya sendiri yang akan dibangkitkan dan banyak lagi perbedaan yang lainnya.

Setelah kita mengetahui arti raj’ah yang sebenarnya, maka secara aql dan naql kita bisa menilai akan kemungkinan dan ketidakmustahilan terjadinya raj’ah. Karena kita bersama meyakini akan kekuasaan Allah SWT yang mutlaq, yang mampu membangkitkan seluruh makhluknya di hari Akherat. Maka tidak mustahil Allah pun mampu dan akan membangkitkan kembali sekelompok manusia di dunia ini .

Ditambah lagi ada beberapa Ayat yang dengan jelas mengkabarkan, bahwa Allah SWT pernah membangkitkan umat-umat terdahulu di dunia ini supaya kita dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut .

Ayat – ayat tersebut adalah :

1. Ayat 56 dari Surat Al baqarah, ” Lalu kami bangkitkan kalian setelah matinya kalian, agar kalian berterimakasih”. Ayat ini menceritakan tentang dibangkitkannya kembali sekelompok Bani Israil, yang meminta kepada nabi Musa untuk memperlihatkan Allah kepada Mereka. Dan kalimat terakhir Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa mereka di bangkitkan di bumi ini. Karna di akherat, tidak ada lagi kesempatan bagi seseorang yang kufur untuk bersyukur .

2. Ayat 73 Surat Al baqarah,  ” Maka Kami berfirman;  pukulah dia dengan sebagian itu! Demikianlah Allah menghidupkan orang mati. Dan Dia memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kamu, agar kamu mengerti”. Ayat ini menceritakan, tentang dihidupkannya kembali seorang dari Bani Israel, yang terbunuh oleh kerabatnya sendiri . Dan ia dihidupkan kembali, supaya memberikan kesaksian akan siapa yang telah membunuhnya .

3. Ayat 243 Surat Al baqarah,  ” Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang keluar dari tempat tinggal mereka, dan mereka itu beribu-ribu jumlahnya, karena mereka takut mati. Lalu Allah berfirman kepada mereka; Matilah kalian! Kemudian Ia menghidupkan mereka kembali “.  Ayat ini menceritakan, bahwa Allah swt telah menghidupkan kembali ribuan Bani Israel, yang keluar dari Mesir lantaran takut dari ancaman mati Firaun, setelah Allah mematikan mereka .

Dan ada beberapa Ayat lagi yang menyatakan akan hal yang sama. seperti Ayat 259 Surat Al Baqarah, yang menceritakan tentang di bangkitkannya Nabi Uzair setelah Allah mematikannya selama 100 tahun. Dan juga Ayat 48 Surat ali-Imran, yang menunjukkan kemampuan Nabi Isa yang dengan izin Allah,  dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati .

Perlu kita ketahui bersama, selain ayat-ayat di atas yang menunjukkan akan kemungkinan terjadinya raj’ah. Disana ada pula ayat al-Quran yang menunjukan akan terjadinya raj’ah sebelum hari kiamat .

Dalam Surat an-Naml ayat  83, Allah SWT berfirman; ” Dan dan pada hari itu kami bangkitkan dari tiap-tiap umat, segolongan orang yang mendustakan ayat Kami, lalu mereka di bentuk menjadi beberapa kelompok”. Ayat ini dengan jelas bahwa Allah akan membangkitkan sebagian umat manusia di suatu hari kelak .

Kalau kita tafsirkan, bahwa kejadian ini terjadi setelah hari Kiamat. Maka penafsiran ini sangat tidak sesuai dengan urutan ayat yang ada di Surat ini. Karena ayat sebelumnya -sebagaimana yang telah disepakati oleh seluruh Mufassir- berkenaan akan kejadian sebelum hari Kiamat. Sedangkan ayat yang mengabarkan akan kejadian-kejadian dihari  kiamat saja, terdapat di ayat 87 dan 88 dari surat ini.  Dan yang menerangkan akan kejadian-kejadian setelah Kiamat, terdapat di ayat 89 dan 90 .

Oleh karna itu, Penafsiran yang benar dan masuk akal adalah  bahwa ayat ini, tidak berhubungan dengan ayat yang jauh di atasnya, yang menceritakan akan kejadian-kejadian setelah hari kiamat. Melainkan ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya, yang menceritakan akan kejadian sebelum hari kiamat. Dan penafsiran ini diperkuat lagi dengan ayat 47 Surat al-Kahfi yang menyatakan bahwa di hari akherat nanti Allah akan membangkitkan seluruh manusia – tidak hanya sebagian – dan tidak akan ditinggalkan seorangpun dari mereka. “Hari pada tatkala gunung-gunung Kami jalankan, dan engkau akan melihat bumi menjadi hamparan yang rata, dan mereka kami bangkitkan, dan tak seorang pun diantara mereka yang Kami tinggalkan “.

Setelah kita membaca dan merenungkan akan arti dan dalil-dalil diatas. Maka tidak ada alasan lagi untuk kita mengkafirkan dan menuduh sesat bagi siapa saja yang menyakini akan raj’ah. Dan perlu kita sadari bersama, bahwa Khalifah kedua Umar bin Khatab pun menyakini akan terjadinya Raj’ah pada diri Rasulallah. Ketika Rasulallah saww wafat, ia berkata “Demi Allah sungguh Rasulallah akan kembali ” . (2) Bukankan yang dimaksud kembalinya Rasulallah, adalah di dunia ini ?  Apakah dengan ini kita akan menuduh Khalifah Umar sesat karna ia menyakini Reinkarnasi ?.

Lihat kitab-kitab A qidah Syiah Imamiah. Seperti; Aqaid al-Imamiah,Syekh Muzaffar, hal 109 / Aqidah No 32,  juga Al-Ilahiyat milik Syekh Jakfar Subhani, jilid 4,  hal 289 dll.

Tarikh Thabari, jilid 2, hal 442. Sirah Ibnu Hisyam, jilid 4, hal 305.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: