Ideologi Fasad

Para pemimpin dunia saling gundah tentang perubahan iklim dan alam semesta yang kian diambang kehancuran. Gundah tentang kemiskinan. Tentang tatanan dunia yang sarat dengan krisis. Tentang masa depan manusia dan seluruh makhluk Tuhan yang sedang dipertaruhkan. Tapi, sempatkan mereka berpikir dari mana asal mula kehancuran di jagad raya yang kita huni ini? Kenapa lingkungan rusak. Hutan gundul.

Bumi kian panas. Orang-orang miskin kian bertambah jumlah dan rasa deritanya. Orang-orang tak bersalah dan bangsa-bangsa yang tak berdaya kian tertindas dan menderita seperti terjadi di Palestina dan Irak. Mengapa tidak memulai berpikir dari hulu, bukan dari hilir.

Boleh jadi tahu. Bahwa kehancuran dunia dan alam semesta serta isinya di abad mutakhir ini karena ulah manusia dan sistem yang merusak, selain karena proses alamiah. Karena ulah manusia dan sistem yang diciptakannya. Namun, belum tentu para tokoh wibawa dunia itu benar-benar mampu membebaskan diri dari ulah manusia dan sistem yang merusak itu. Boleh jadi pula mereka bahkan menjadi pendukung dan bahkan pelaku perilaku dan sistem yang merusak itu.

Para aktivis lingkungan dan kalangan kritis menuding biang semua kerusakan atau kehancuran dunia ialah kapitalisme. Manusia dan sistem kapitalis, yang nafsu angkara murkanya menghunjam ke bumi dan menjulang tinggi ke langit. Para tokoh agama pun berteriak yang sama, bahwa kapitalisme globallah yang menjadi akar dan sebab kehancuran dunia saat ini.

Bahkan neokapitalisme dan berbagai ketidak-adilan ekonomi-politik global yang kini merajalela secara sistematik ke seluruh penjuru dunia, tiada lain sebagai anak kandung atau rumpun biologis dan ideologis dari dajjal kapitalisme itu. Sayap terbarunya yang tak kalah merajalelanya ialah neoliberalisme.

Namun apa daya. Para pemimpin dunia yang menentukan hitam-putihnya berbagai kebijakan di jagad raya saat ini sungguh menjadi pendukung setia dan pelaku sistem kapitalisme, neoimperalisme, dan neoliberalisme yang massive itu. Mereka adalah para pemimpin negara-negara maju, sang biang kapitalisme global. Bahkan para pemimpin dunia kedua dan dunia ketiga, termasuk Indonesia, kebanyakan menjadi satelit-satelit paling setia dari hegemoni para pemimpin dunia di negara adidaya itu. Ada negara dan pemimpin sentral, ada pula negara dan para pemimpin periferal.

Ideologi kapitalisme melahirkan nafsu dan perilaku yang rakus. Dengan mengejar keuntungan yang sebesar-sebesarnya, sistem yang satu ini memanjakan siapa pun yang mau dan mampu mengejar dan mewujudkan apa pun yang serba besar, menguntungkan, dan berlebih. Kerakusan adalah esensi dari ideologi kapitalisme. Kehancuran dan kerusakan di muka bumi ini sesungguhnya lahir dari rahim ideologi yang memang berwatak merusak dan menghancurkan.

Sistem yang memproduksi kehancuran atau kerusakan itu celakanya justru mampu memanjakan orang-orang yang melakukannya seolah-seolah membawa misi kebaikan. Masyarakat dunia, bahkan yang menjadi korban, dibuainya seolah bukan memperoleh keburukan dari sistem dan pelaku yang merusak itu, sebaliknya memperoleh berkat atau kebaikan. Inilah yang disebut ideologi kerusakan. Ideologi kehancuran, lebih tepatnya ideologi pengrusakan atau penghancuran.

Islam memperkenalkan “ideologi” penghancuran atau perusakan itu dengan istilah “al-fasad” atau “fasad” sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat ke-11. Pesan Allah itu berbunyi, yang artinya: “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”.

Di lain ayat Alquran, Allah juga menegaskan bahwa kerusakan atau penghancuran di muka bumi ini, tiada lain karena ulah tangan manusia sendiri. Manusia perusak, tidak merasa dan mengakui dirinya merusak, bahkan sebaliknya mengklaim diri sebagai pembangun. Itulah paradoks manusia perusak. Mengakui diri membangun, tetapi yang terjadi sesungguhnya merusak. Itulah ideologi fasad, ideologi perusakan atau penghancuran dunia.

Kini, ideologi fasad itulah yang mencengkeram alam pikiran dan sistem kehidupan dunia abad supermodern. Terlalu banyak contohnya. Alam dan isinya rusak karena kerakusan nafsu eksploitasi yang melekat dan jiwa kapitalisme dan bersarang kokoh pada jantung hati dan pikiran manusia-manusia pelakunya seperti para pengusaha dan pejabat yang korup. Para perusak alam dan lingkungan itu bukan mengambil sedikit, bahkan sebanyak-banyaknya demi keuntungan yang sebesar-besarnya, bila perlu dan memang sering melalui cara-cara yang haram tetapi legal.

Maka tidak mengherankan bila pembalak hutan yang merugikan bangsa dan negara, malah bebas dari hukuman karena banyak pihak yang semestinya menegakkan hukum telah dimanjakan oleh suap, sogok, dan fasilitas. Hukum tidak lagi tegak di tangan penegak hukum, malah mati-suri, tetapi semuanya berpikir sama bahwa perusak hutan dan alam itu tidak bersalah. Hingga kapan pun perusak kehidupan akan leluasa hidup di tengah sistem dan perilaku yang memberikan keleluasaan.

Ideologi fasad kini masuk ke ruang-ruang kehidupan di mana pun. Televisi katanya hadir untuk memberikan tuntunan, tetapi senyatanya banyak meracuni generasi bangsa. Merusak akidah, akhlak, dan nalar sehat. Menguras energi fitri anak-anak bangsa sejak dini, hingga mereka larut dalam setiap tayangan dari bangun tidur sampai jelang tidur kembali. Menayangkan pola hidup mewah, hedonis, seks bebas, hingga segala macam parade hidup yang tidak karu-karuan. Televisi sebenarnya telah menjelma menjadi pembunuh kehidupan generasi manusia menyamai genocide di masa lampau.

Tak mudah menghadapi ideologi fasad yang berada dalam bingkai sistem dan rezim yang kendati banyak melahirkan benih-benih kerusakan tetapi pada saat yang sama banyak memanjakan setiap orang dengan citra serba baik. Pada waktu yang sama kekuatan-kekuatan alternatif seperti agama dan para agamawan juga terninabobokan oleh sistem dasamuka itu.

Arundhati Roy pernah menyuarakan dengan lantang di India melalui karyanya The God of Small Things. Di sebuah desa di barat daya India, Kerala, justru agama selain ideologi dan negara tidak lagi kuasa melawan kapitalisme, sebaliknya menjadi bagian dari rezim raksasa itu. Agama dan kaum agamawan bahkan menjadi tidak peduli dengan derita kaum miskin dan papa; mereka justru berada dalam sistem yang membuat kaum dhu’afa dan mustadh’afin itu tetap berada dalam lingkaran sistem yang menindas dan memarjinalkan. Agama, negara, dan ideologi dunia saat ini tak mampu membebaskan kaum Sudra dari marjinalisasi sistem kasta di India, juga di belahan bumi lain.

Ekonom Jerman, Schumaker pernah menawarkan aternatif radikal: Kecil Itu Indah, Small Is Beautiful. Guna melawan ekonomi yang serba raksasa yang digerakkan oleh mesin kapitalisme dunia, diperlukan ekonomi kecil yang mampu membebaskan orang-orang miskin di muka bumi ini. Sistem yang raksasa justru harus dilawan oleh yang kecil tetapi kokoh. Melawan Golliath perlu seorang David.

Dawud (David) yang kecil, atas izin Allah dan kekuatan dirinya serta dukungan raja Thalut yang bijaksana dari negeri Bani Israil akhirnya mampu mengalahkan Jalut (Golliath) yang perkasa dari negari Amaliq. Tuhan mengabadikan kisah Dawud dan Thalut melawan pasukan Jalut itu dalam Al-Quran: “…berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah{2}: 249).

Memang tak mudah meruntuhkan rezim yang raksasa, yang ideologinya telah mendarah-daging dalam denyut nadi setiap orang di muka bumi ini. Selalu ada psikologi kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, bahkan pesimisme dan fatalisme dalam diri banyak orang yang telah berada dalam kungkungannya. Ketika Thalut membangunkan kesadaran kaumnya untuk melawan kedigdayaan rezim Jalut, kaumnya selain lemah mental juga tergiur untuk minum air di sungai padahal kala itu seharusnya dihindari. Pasukan Thalut yang telah meminum air sungai itu lantas berkata: “tidak ada kesanggupan kami untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Bahkan ketika Dawud yang diminta Thalut untuk menjadi martir melawan Jalut yang raksasa, anak muda Bani Israil ini selain dicemaskan kaumnya juga dilecehkan Jalut sebagai sosok kemustahilan.

Gerakan melawan ideologi fasad perlu dari semua jurusan. Mulailah segala sesuatu dari hulu, jangan dari hilir. Produksi pikiran-pikiran baru yang bersifat alternatif. Lakukan langkah-langkah perintisan, yang juga bersifat alternatif. Bangun sinergi dan kekuatan lintas peradaban. Tak perlu menuggu besar dan raksasa, dimulai dari kecil pun lama-kelamaan akan menjadi gelombang besar. Tak perlu menunggu janji-janji besar dunia politik dan politisi, yang menjanjikan perubahan struktural tetapi sekadar kerja-kerja pinggiran dan retorika. Kecil itu sebenarnya indah, asalkan kita meyakini dan mengembangbiakkannya dengan spirit menggelora untuk menghadirkan gerakan pencerahan dan pembebasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: